Wanita Ini Curhat Soal Suami Nganggur di Grup Info Cegatan Jogja, Direspon Lebih Dari 31.000 Akun

SEORANG wanita bernama asli Devi Lesmiyati itu menggunakan nama facebook Shifa Amalia Dewi, membuat heboh grup facebook Info Cegatan Jogja (ICJ). Pasalnya dia mengunggah curahan hatinya soal suami yang menganggur, namun hobi mancing serta piara burung.

Curahan hati yang diunggah pada Kamis (28/10/2021) itu telah dikomentari lebih dari 31.000 warganet dalam waktu kurang dari 24 jam.

Wanita asal Bantul ini mengaku suaminya suka memancing dan memelihara burung namun tidak bekerja dengan alasan sulit mendapat pekerjaan di usia di atas 35 tahun. Jika mau memulai usaha, mereka tidak punya modal.

Sebagai tulang punggung keluarga, dia bekerja di pabrik untuk menghidupi suami dan seorang anak mereka. Ia sampai sering lembur demi bisa cukup untuk makan, membayar angsuran sepeda motor, membeli susu anaknya bahkan membeli pakan burung yang dipelihara suaminya, membeli umpan untuk suaminya memancing serta membelikan rokok suaminya.

Dilansir dari Harianjogja.com, Devi Lesmiyati mengatakan suaminya tidak bekerja sejak mereka menikah. “dulu wktu pacaran masik kerja orangnya..sehabis punya anak ndak mau kerja sama sekali.. klo hoby menghasilkan gpp ya .ini ga menghasilkan ngabisin duit..,” katanya.

Menanggapi hal itu, Konselor Hukum di Rifka Annisa (organisasi non pemerintah yang berkomitmen pada penghapusan kekerasan terhadap perempuan), Lisa Oktavia mengungkapkan kondisi yang dialami Devi Lesmiyati itu banyak dialami pasangan di masa pandemi Covid-19. Banyak karyawan kena PHK sehingga menyebabkan penganggur.

Baca juga: The Power of Sosmed: 5 Tahun Cari Adik Hilang, Lapor Twitter Langsung Ketemu

“Saat suami tidak bekerja, itu sebenernya bisa, ketika keduanya memahami dan dikomunikasikan bahwa salah satu tidak bekerja. Kuncinya di komunikasi,” kata Lisa Oktavia, menanggapi kasus tersebut, Jumat (29/10/2021).

Ketika suami tidak bekerja, lanjutnya, maka suami bisa gantikan pekerjaan di ranah domestik, yaitu pekerjaan rumah tangga. Di sinilah perlunya berbagi peran antara suami dan istri, dan lebih lanjut bisa berganti peran. Namun, Lisa menegaskan bahwa hal ini harus dikomunikasikan dan disepakati lebih dahulu. “Harus clear. Kalau tidak, jadi tidak sehat,” katanya.

Hal yang masalah, menurutnya adalah ketika suami tidak sadar dengan pembagian peran tersebut. Lisa mengatakan suami boleh punya hobi, tetapi harus ingat ada peran yang harus dilakukan di dalam keluarganya. Lagi-lagi, kuncinya adalah komunikasi.

Solusi untuk masalah ini, menurutnya adalah intervensi konseling pada pasangan tersebut, yaitu menggugah kesadaran tentang peran pasangan dalam rumah tangga dan pentingnya komunikasi.

Ia mengakui ada masyarakat yang menganut patriarki sehingga menganggap suami berkuasa. “Ada yang menganut patriarkinya. Suami merasa harus berkuasa, tetapi previlege tidak ada, kemudian yang dilakukan bukan menyadari tapi menekan, sampai memukul. Ini yang harus disadarkan,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*