JoSS, JAKARTA – Mendikbudristek Nadiem Makarim menegaskan belajar tatap muka di sekolah tak akan disetop, meski sejumlah klaster penyebaran corona yang diduga dipicu pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah mulai bermunculan.
Dia menuturkan akan terus memantau perkembangan, dan melakukan langkah-langkah penanganan tanpa harus menghentikan proses PTM berskala nasional. Menurutnya, yang terpenting adalah penerapan protokol ketat di sekolah, dan jika ditemukan kasuas baru maka sekolahnya yang bakal ditutup sementara.
“Itu terus kami monitor, itu temuannya. Bukan berarti PTM-nya akan diundur, masih harus jalan, terbuka, tapi sekolahnya masing-masing kalau ada kasus klaster ya harus ditutup segera, memang seperti itu,” kata Nadiem seperti dilansir dari detik.com, Jumat (24/2021).
Sebelumnya, situs Kemendikbudristek membeberkan data soal klaster corona saat pembelajaran tatap muka (PTM) di Jakarta.
Baca juga: Purbalingga Hentikan Sementara Pembelajaran Tatap Muka Setelah 90 Siswa Positif Covid-19
Ada 25 klaster corona yang disebut terjadi di Jakarta selama belajar tatap muka digelar. Soal data kasus positif Covid-19 saat PTM di Jakarta itu tertera dalam situs Kemendikbud sekolah.data.kemdikbud.go.id.
Di laman itu ada indeks PTM dan indeks siap PTM. Ada juga infografis PTM, infografis kendala, dan infografis klaster.
Data kasus saat PTM ada dalam bagian infografis klaster. Sumber data itu dari aplikasi Survey Sekolah yang diambil per 22 September 2021.
Masih dari laman itu, terlihat data yang menyebut 25 klaster sekolah di Jakarta dari total 900 responden sekolah. Perinciannya, sebanyak 227 pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) dan 241 peserta didik (PD) positif Covid-19.
Situs itu juga bisa melihat data klaster di provinsi lain. Jika dalam skala nasional, total ada 1.302 klaster pada PTM.
Plt Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbudristek Anang Ristanto membenarkan data yang tertera merupakan data dari situs Kemendikbud.
Namun kebenarannya perlu diverifikasi. “Data tersebut benar dari sekolah.data.kemdikbud.go.id, namun data yang masuk tersebut perlu kami verifikasi terlebih dahulu kebenarannya,” ujar Anang, Kamis (23/9/2021). (lna)

Leave a Reply