Festival Lima Gunung 2021: Di Tapak Jaran Sembrani Seniman Doakan Pandemi Segera Berakhir

Gelaran Festival Lima Gunung XX di Warangan peserta dibatasi tidak lebih dari 50 orang guna menghindari kerumunan (Foto: magelangkab.go.id)

JoSS, MAGELANG – Festival Lima Gunung XX/2021 di tengah pandemi COVID-19 menjadi ungkapan eksistensi para seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Minggu.

Putaran ketiga lanjutan festival secara mandiri itu di kawasan Gunung Merbabu Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang dimulai dengan kirab sederhana.

Sebelumnya, telah dilakukan putaran pertama FLG XX/2021 berlangsung di sumber air Tlompak Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, 21 Mei 2021, putaran kedua di areal persawahan Dusun Sudimoro, Desa Baleagung, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang pada 29 Mei 2021.

Festival Lima Gunung berlangsung sepanjang tahun ini dengan menyesuaikan perkembangan situasi pandemi.

Sekitar 25 seniman ikut kirab sejauh 200 meter dari Sanggar Dom Sunthil yang dikelola seorang tokoh komunitas itu di dusun setempat, Handoko, menuju tempat bernama “Tapak Jaran Sembrani” di alur Sungai Gendu.

Kirab dan performa dipimpin tokoh warga Warangan, Jumo (70), dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, antara lain pembatasan peserta, pemakaian masker dan pengaturan jarak.

Melansir dari Antara, sejumlah tokoh Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Menoreh) yang hadir, antara lain Sutanto Mendut, Supadi Haryanto, Haris Kertorahardjo, Pangadi, Ismanto, Sujono Keron, Endah Pertiwi, Nungki Nur Cahyani, Singgih Aljawi, Lyra de Blaw, Nabila Rifani.

Baca juga: Desa Wisata Nglanggeran Gunungkidul Wakili Indonesia di Ajang Internasional Best Tourism Village

Hadir pula, dalang Kota Magelang Susilo Anggoro, pemerhati budaya asal Kediri yang sejak setahun terakhir tinggal di kawasan Candi Borobudur, Joko Kuntono, serta sejumlah seniman dari Kota Solo.

Gerimis sempat sebentar mewarnai kirab mereka yang diiringi tetabuhan beberapa alat musik, seperti bende, kenong, seruling, kentongan dan kelinting.

Di “Tapak Jaran Sembrani”, Jumo (70), memimpin doa secara kejawen untuk keselamatan masyarakat setempat, pegiat KLG, dan Bangsa Indonesia dari pandemi COVID-19, selalu beroleh kesehatan dan rejeki yang cukup, serta hidup tenteram dan damai.

Suara seruling, kentongan, bende, mengiring doa bersama dan penaburan bunga mawar, yang dilanjutkan pidato dari sejumlah tokoh, seniman dan budayawan.

Sejumlah tembang Jawa dilantukan para pegiat komunitas itu untuk mengiring performa seni di lokasi dengan kiri kanan sungai berupa pepohonan rindang.

“Tema festival kami tahun ini, ‘Peradaban Desa’, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa tradisi-tradisi desa dan gunung masih eksis dan jalan, tidak surut walau diterpa pandemi. Kita mencari kekuatan alam dan desa,” kata Ketua KLG Supadi Haryanto.

Ia menyebut jiwa seni tidak akan mati dalam situasi apa pun. Demikian juga para pegiat Komunitas Lima Gunung selalu mencari cara untuk bangkit dari situasi yang sulit, termasuk dari pandemi. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*