JoSS, SOLO – Karyawan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau Solo Zoo terancam dirumahkan akibat tidakadanya pemasukan objek wisata tersebut selama pandemi Covid-19. Terlebih saat ini kembali dilakukan penutupan operasional akibat tingginya angka penularan virus corona.
Terkait hal itu, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan pihaknya tidak menampik kemungkinan merumahkan karyawan Solo Zoo, akibat pandemi. “Besok itu mungkin bisa jadi dirumahkan, tetapi keeper, dokter hewan, dan satpamnya dipekerjakan seperti biasa,” katanya, seperti dilansir dari Antara.
Ia mengatakan kemungkinan tersebut terjadi karena sulitnya Pemkot Surakarta mempertahankan operasional TSTJ selama pandemi COVID-19. Menurut dia, dalam kondisi seperti ini tidak mungkin TSTJ dibuka seperti biasa.
“Percuma, daripada nanti kami malah kena persoalan. Keputusan Pak Sekda tutup sekalian aja,” katanya. Meski demikian, terkait dengan kemungkinan merumahkan karyawan tersebut sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan.
“Kemarin kan selalu saya sampaikan targetnya itu adalah hewannya selamat pegawainya bisa ngliwet (memasak nasi),” katanya.
Ia mengatakan awalnya Pemerintah Kota Surakarta akan menggunakan anggaran belanja tak terduga (BTT) untuk penggajian. Meski demikian, sesuai dengan aturan BTT tidak bisa digunakan untuk menggaji karyawan.
“Dipikir menggunakan anggaran BTT boleh, ternyata ‘nggak’ boleh untuk gaji karyawan administrasi sampai direktur, tetapi kalau untuk mengaji keeper dan dokter hewannya boleh. Untuk beli makannya juga boleh, kemarin sudah kami anggarkan Rp1,9 miliar untuk setahun ini,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan jika situasi sudah kembali normal maka TSTJ akan kembali dibuka untuk masyarakat umum.
Baca juga: Imlek di Masa Pandemi, Pengrajin Kue Keranjang di Solo Hentikan Produksi
Seperti diketahui, TSTJ kembali tidak menerima pengunjung akibat jumlah kasus COVID-19 di Kota Solo yang masih terus meningkat. “Ditutupnya (tidak menerima pengunjung) ini jelas keputusan manajemen dan pak wali (Wali Kota Surakarta),” kata Direktur Utama TSTJ Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso di Solo, Jumat.
Ia mengatakan penutupan TSTJ untuk pengunjung ini pernah dilakukan saat penetapan status kejadian luar biasa (KLB) di Solo pada awal COVID-19 lalu, yaitu selama bulan Maret-Juni.
“Sejak dibuka Juni itu memang tingkat kunjungan sepi, karena kami kan mengikuti surat edaran wali kota, salah satunya pengunjung harus berusia di atas 15 tahun,” katanya.
Padahal, menurut dia selama ini sekitar 40 persen dari total pengunjung merupakan anak di bawah 15 tahun, 40 persen lagi orang tua yang mengantarkan anak mereka, dan 20 persen berasal dari rombongan taman kanak-kanak (TK) yang biasa berekreasi pada libur sekolah.
Ia mengatakan selama pandemi COVID-19 angka kunjungan setiap harinya di kisaran 20-25 pengunjung. Bahkan, dikatakannya, momentum libur pergantian tahun lalu juga tidak mampu mendongkrak jumlah pengunjung.
Pihaknya mencatat jika pada libur akhir tahun sebelumnya jumlah pengunjung bisa mencapai 21.000 orang, untuk Desember lalu jumlah pengunjung tidak lebih dari 20 orang.
“Melihat kondisi ini ya otomatis diambil kebijakan tidak menerima pengunjung dulu, sambil lihat perkembangan. Kalau perkembangan kondusif ya dibuka, siapa yang tidak ingin buka. Apalagi sekarang kan anak-anak sekolah belum aktif,” katanya.
Meski untuk sementara ini tidak menerima pengunjung, pihaknya berupaya memastikan satwa yang ada di lembaga konservasi tersebut tetap terpelihara dengan baik. “Ketersediaan pakan masih aman sampai sekarang, kami dengan Pemkot Surakarta berusaha. Strategi bertahan kan banyak, ya nanti kami ambil yang terbaik,” katanya. (lna)

Leave a Reply