
JoSS, SEOUL – Drama Korea Start Up tengah booming baik di Korea Selatan sendiri maupun di negara lain, termasuk di Indonesia. Selain menampilkan kisah percintaan, drama ini menyuguhkan tentang kehidupan karier hingga proses perjuangan para tokoh dalam merintis perusahaan startup.
Perjuangan tersebut dimulai dengan mencari modal, menawarkan ide hingga memasarkan produk mereka agar mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan bisnis rintisan yang sedang menjamur di Korea Selatan.
Meski berangkat dari kisah fiktif, namun beberapa aspek dalam drama ini yang diilhami kejadian dalam kehidupan nyata.
Dalam salah satu adegan di episode awal Start-Up, Nam Do-san tampak melihat kliping berita berisi dukungan pemerintah Korea Selatan dalam pengembangan bisnis rintisan.
Klipingan itu sejatinya benar adanya. Melansir Tech in Asia, berdasarkan catatan Korea-Trade Investment Agency (KOTRA), pemerintah Korea Selatan menyuntikkan dana sebesar 1 triliun won atau Rp13 triliun untuk pengembangan startup.
Di sisi lain, pemerintah Korea Selatan juga menerapkan kebijakan fiskal yang mendukung, seperti pengurangan pajak pendapatan investasi dan pembebasan pajak, juga menyuburkan ekosistem startup.
Sementara itu Seoulz menyebut, selain suntikan dana, beberapa kementerian Korea Selatan juga meluncurkan program untuk menjaring startup dari kalangan milenial yang dipersiapkan untuk menjadi mitra.
Salah satunya Kementerian UKM dan Startup Korea Selatan (Ministry of SMEs and Startups) yang menaungi program The Korea Institute of Startup and Entrepreneurship Development.
Program itu berfokus membantu startup mendapatkan investasi, melindungi teknologi, dan membantu mengembangkan prototipe.
Baca juga: Parlemen Korsel Loloskan RUU Terkait Penangguhan Wajib Militer Bagi Pesohor, BTS di Antaranya
Selanjutnya Kementerian Sains dan TIK Korea Selatan yang siap menggelontorkan anggaran hingga US$20 miliar untuk riset dan pengembangan startup yang bergerak di bidang AI, bioteknologi, jaringan 5G, dan teknologi luar angkasa.
Drama Korea Start-Up juga kerap menggambarkan persaingan antar pelaku startup pemula, seperti acara hackathon oleh SANDBOX serta lomba ‘olimpiade’ kecerdasan buatan bernama CODA.
Di dunia nyata, lomba-lomba sejenis memang ada. Korea Selatan bahkan menyelenggarakan K-Startup 2020 yang membuka partisipasi besar-besaran para startup di bidang kecerdasan buatan, logistik, bioteknologi, robotika, dan lainnya.
Acara ini juga mendatangkan startup dari kawasan Asia seperti India, Sri Lanka, Israel, Jordania, Turki, Azerbaijan, Nepal, Pakistan, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, dan Palestina.
Perlombaan tersebut merupakan bagian dari ambisi pemerintah Korsel untuk menjadi pemain kunci dalam industri kecerdasan buatan global.
Pemerintah Korsel bahkan berencana mengembangkan 50 perusahaan semikonduktor yang fokus pada pengembangan AI pada 2030. Yinhap menyebut, pemerintah Korsel akan mencari ribuan ahli lokal untuk memimpin gelombang baru inovasi itu.
Dilansir dari CNNIndonesia, Korea Selatan tampak tengah digandrungi tren perusahaan rintisan. Tak sedikit anak muda Korea bercita-cita atau berlomba-lomba menjadi CEO. Penggambaran itu ternyata berdasarkan kejadian nyata. Menurut Asia Times, Seoul diproyeksikan menjadi lokasi penting dari industri startup global berikutnya.
Hal itu didasarkan dari hasil riset firma CB Insight yang menyebut Korea Selatan kini menjadi rumah bagi 11 startup unicorn, atau startup yang bernilai lebih dari US$1 miliar.
Korsel pun menempati urutan kelima di dunia setelah China, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang.
Sebagian besar dari startup yang berkembang di Korea Selatan pun berpusat di Seoul. “Dan jika pemerintah Seoul berhasil, kota dengan 11 juta orang itu akan segera menantang Silicon Valley, New York, Boston, Seattle, dan Tel Aviv sebagai pembangkit tenaga ventura,” tulis Asia Times. (lna)

Leave a Reply