Tak Hanya Gudeg dan Geplak, Oleh-Oleh Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung ke Jogja

Perajin Gerabah Desa Kasongan, Bantul | Foto: travelingyuk.com/kurnia pangestuti

JoSS, JOGJA – Di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, aktifitas pariwisata masih dibatasi. Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya, masih memberlakukan tanggap darurat bencana dengan melakukan pembatasan-pembatasan aktifitas masyarakat.

Namun, bagi wisatawan domestik tetap diperbolehkan untuk berkunjung atau plesiran ke Jogja, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan, guna mencegah penyebaran virus corona.

Berwisata ke Jogja, jangan lupa untuk mencicipi kuliner legendaris gudeg Jogja, ada juga oleh-oleh yang sayang untuk dilewatkan yakni geplak dan bakpia. Selain kuliner, kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat sekitar juga wajib dibeli, sebagai kenang-kenangan dari Jogja.

Sebut saja kerajinan gerabah Desa Kasongan, Bantul, Yogyakarta. Desa wisata ini menawarkan pesona tersendiri bagi wisatawan. Mulai dari pemandangan alamnya yang menakjubkan sampai kerajinan tangan warga lokal yang memukau.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, desa wisata atau kampung seni didirikan. Keberadaan desa-desa wisata ini selain untuk memikat wisatawan juga berfungsi untuk memberdayakan masyarakat di sekitar obyek wisata sehingga perekonomiannya turut terangkat.

Baca juga: UGM Kembangkan Sistem Deteksi Dini Gempa 3 Hari Sebelum Guncangan

Salah satu desa wisata yang kerap menarik perhatian adalah Desa Kasongan yang berada di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Desa ini terkenal berkat kerajinan tangan gerabah. Saking melekatnya dengan kerajinan dari tanah liat itu, Desa Kasongan kerap disebut sebagai desa sejuta gerabah. Penyebutan tersebut bukan tanpa alasan.

Dikutip dari Kompas.com, Di sepanjang Jalan Kasongan, banyak berdiri showroom atau galeri seni yang memamerkan beragam gerabah. Gerabah dari Kasongan bahkan tersohor hingga Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan Eropa. Hasil kerajinan Desa Kasongan bisa sebegitu terkenal berkat tangan dingin seniman Saptohoedoyo.

Pada 1970-an, Sapto membantu masyarakat desa agar bisa membuat gerabah dengan bentuk yang lebih “nyeni” untuk meningkatkan nilai jualnya. Perlahan, pengrajin yang tadinya membuat gerabah sederhana, seperti perabot dapur, pot bunga, dan celengan, mulai memproduksi gerabah unik.

Salah satu yang paling khas adalah patung loro blonyo. Patung pasangan pengantin Jawa ini memiliki beragam bentuk atau model, mulai dari realis hingga karikatural. Pose patung tersebut juga banyak, dari duduk bersila hingga berdiri.

Lantaran khas dan unik, patung tersebut menjadi oleh-oleh wajib yang harus dibawa pulang wisatawan saat berkunjung ke Kasongan. Selain patung loro blonyo, wisatawan bisa menemukan berbagai bentuk gerabah. Mulai dari keramik kontemporer hingga guci dengan berbagai corak.

Menariknya, wisatawan yang berkunjung juga bisa belajar bagaimana cara mengolah tanah liat menjadi sebuah perabot. Harga yang dipatok pun tidak mahal, sekitar Rp 50.000. Nantinya, hasil kerajinan yang sudah jadi itu bisa pula dibawa pulang. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*