Libur Panjang di Masa Pandemi, Satgas Penanganan Covid-19 Wanti-Wanti

Ilustrasi | Foto: liputan6

JoSS, JAKARTA – Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro mengatakan libur panjang yang jatuh pada 28 Oktober – 1 November akan menjadi momentum tantangan bagi masyarakat untuk menguji kedisplinan protokol kesehatannya.

Hal ini mengingat pada dua periode libur panjang sebelumnya telah memberikan pelajaran penting lantaran kasus Covid-19 melonjak tajam. Untuk itu, masyarakat didorong untuk lebih memilih staycation atau berlibur di rumah saja.

“Pilihan ini adalah yang paling aman karena kita yang mengendalikan lingkungan rumah kita menjalankan protokol kesehatan pada keluarga,” ujarnya, Jumat (23/10/2020).

Jangan lupa, katanya, pastikan peredaran udara segar lancar di dalam rumah dengan membuka ventilasi atau jendela. Sinar matahari juga harus dibiarkan masuk.

Banyak acara seru yang dapat menjadi pilihan yakni virtual tour ke tempat-tempat wisata yang tersedia di situs internet.

Kendati demikian, bagi masyarakat yang sudah bertekad untuk melakukan perjalanan ke luar kota pada libur panjang kali ini, diharapkan mempertimbangkan moda transportasi yang dipilih.

Baca juga: Warga Lansia di Atas 60 Tahun Tak Akan Divaksin Covid-19, Ini Alasannya

“Pastikan moda transportasi yang betul-betul mempraktikkan protokol kesehatan dengan ketat seperti maskapai penerbangan atau kereta api,” ungkap Reisa.

Apabila memakai transportasi umum, maka pelancong harus melakukan pemesanan tiket sejak jauh-jauh hari sehingga dapat terhindar dari antrean membeli tiket atau saat rapid test.

“Dalam perjalanan, [pelancong] wajib tetap memakai masker. Hindari makan atau minum atau mengobrol panjang di dalam pesawat, kereta, atau bus,” ujarnya

Sementara itu, Reisa menuturkan angka kesembuhan Covid-19 semakin tinggi di Indonesia dengan persentase mencapai 80 persen dari total kasus sebanyak 381.910 orang. Persentase kasus aktif nasional dalam angka terkecil dibanding beberapa bulan terakhir.

“Jumlah kasus aktif 63.733 atau 16,6 persen dari total kasus. Upaya kuratif semakin baik, Hal ini juga didukung dari  status persediaan obat penanganan Covid-19 dalam status aman,” ujarnya.

Seperti diketahui, sebagian obat penanganan Covid-19 sudah diproduksi oleh industri farmasi nasional. Per 22 Oktober, suplai obat sudah didistribusikan ke 34 provinsi dan 760 rumah sakit rujukan ditambah 250.000 tenaga kesehatan.

“Maka kita semakin optimis lebih bnyak kasus bisa disembuhkan,” tuturnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*