Korban Tewas Karhutla California Terus Bertambah, Dokter Ingatkan Rentan Covid-19

Petugas pemadam kebakaran memantau kebakaran Selatan di Hutan Nasional Shasta-Trinity. Api disulut oleh petir 5 September dan telah membakar sekitar 5.332 hektar | Foto: latimes.com

JoSS, CALIFORNIA – Korban meninggal dunia akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di California, Oregon, dan Washington, Amerika Serikat kini bertambah menjadi 28 orang hingga Minggu (13/9). Kebakaran hutan ini sudah berlangsung sejak pertengahan Agustus lalu di tiga negara bagian yang terletak di pesisir barat AS itu.

Sebanyak 19 orang meninggal dunia di California, delapan orang di Oregon, dan seorang anak di Washington.

Selain korban meninggal, kebakaran hutan yang berkobar tiga negara bagian itu membuat puluhan orang dilaporkan hilang dan puluhan ribu penduduk mengungsi untuk menyelamatkan diri. Asap yang tebal dan tidak sehat juga mempersulit upaya evakuasi.

Ribuan orang telah meninggal rumah mereka di Oregon, termasuk Lori Johnson. “Saya keluar tanpa kaus kaki, tanpa apa-apa – secara harfiah, hanya pakaian di badan kami,” kata Johnson kepada stasiun televisi KATU, seperti dikutip CNN.

Menurut Badan Kebakaran Terpadu Nasional AS, di seluruh pesisir barat AS terdapat 97 titik api, termasuk 12 di Idaho dan sembilan di Montana. Pemantau kualitas udara memperingatkan bahwa asap itu membuat udara tidak sehat.

Para dokter memperingatkan kualitas udara buruk akibat asap kebakaran hutan yang melanda negara bagian Barat Amerika Serikat, California, bisa membuat warga lebih rentan terhadap infeksi virus corona.

“Berbagai penelitian telah menunjukkan korelasi antara tingkat polusi yang lebih tinggi di udara dan penyebaran yang lebih besar serta tingkat keparahan kasus Covid-19,” kata Dr. Brad Spellberg, kepala petugas medis dari Los Angeles County-USC Medical Center.

Baca juga: Relawan Alami Sakit Tulang Serius, Uji Coba Akhir Vaksin AstraZeneca Dihentikan

Hal ini berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, Cina, dan Italia. “Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa paparan jaringan paru-paru terhadap polusi dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus,” demikian dilansir dari CNNIndonesia.

Pasalnya, asap dari kebakaran hutan dapat mengiritasi paru-paru dan menyebabkan peradangan yang dapat mempengaruhi sistem kekebalan, kata Dr. Rekha Murthy, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Cedars-Sinai di Los Angeles. Peradangan itu bisa membuat orang lebih berisiko terkena infeksi paru-paru.

“Setiap kali lapisan paru-paru atau saluran udara meradang atau rusak, hal itu meningkatkan potensi partikel virus yang terhirup untuk bertahan di paru-paru dan menyebabkan infeksi,” kata Murthy.

Ada juga kekhawatiran bahwa udara yang dipenuhi asap akan mendorong orang-orang yang positif virus Corona ke dalam ruangan, kata analis medis CNN Dr. Leana Wen. Sehingga, hal ini berpotensi meningkatkan penyebaran virus.

Pejabat setempat memperkirakan butuh waktu lama untuk menyetop kebakaran hutan yang terbesar dalam sejarah California itu. Suhu yang tinggi, angin yang kencang, dan sedikit hujan membuat api terus berkobar.

Kebakaran hutan di Oregon diperkirakan bakal berlangsung hingga musim hujan di musim dingin turun atau paling cepat pada Desember mendatang.

Belum lagi, petugas pemadam kebakaran terus berkurang karena kelelahan. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Hutan Los Angeles, Robert Garcia, mengatakan kepada CNN bahwa mereka saat ini hanya memadamkan kebakaran dengan 500 personel, padahal biasanya ada 1.000 hingga 1.500 orang. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*