Terdampak Pandemi, Lebih Dari 3,8 Juta Mahasiswa PTS Tunggak Bayar SPP

Ilustrasi | Foto: net

JoSS, JAKARTA – Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Budi Djatmiko mengatakan, setidaknya 3,8 juta mahasiswa di perguruan tinggi swasta (PTS) menunggak sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Jumlah tersebut mencapai 70% dari total mahasiswa yang ada di kampus swasta di Tanah Air.

Menurutnya, pandemi Covid-19 membuat mahasiswa yang berasal dari kalangan ekonomi menengah bawah kesulitan membayar. Berdasarkan laporan yang diterima asoasiasi, hanya 30% dari mahasiswa yang mampu membawar SPP.

Data Statistika Pendidikan Tinggi 2018 yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), tahun itu ada total 4,5 juta mahasiswa swasta ditambah sekitar satu juta mahasiswa baru.

“Artinya, setidaknya ada 5,5 juta mahasiswa di kampus-kampus swasta seantero negeri belum termasuk yang mendaftar pada 2019. Jika diambil 70% dari jumlah itu, mahasiswa yang menunggak bisa mencapai 3,8 juta orang,” kata Budi, seperti dikutip dari Republika.

Menurut Budi Djatmiko, saat ini mahasiwa yang menunggak pembayaran terpaksa cuti perkuliahan karena tidak bisa membayar. Ia mengatakan, bantuan dari Pemerintah terkait keringanan pembayaran UKT tidak bisa membantu secara keseluruhan.

Menurutnya, sebagian besar mahasiswa yang menunggak pembayaran ada di PTS kecil yang mahasiswanya 1.000-2.000 orang. Tidak sedikit, di antara mahasiwa – mahasiswa tersebut berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Ia menekankan, jumlah 70% mahasiswa menunggak dan cuti kuliah itu bisa mengancam operasional PTS bersangkutan.

Baca juga: Duh, Kuliah Online Bikin DIY Kehilangan Potensi Pendapatan Rp17,2 Triliun

“Kalau yang PTS (besar) mahasiswa mereka berasal dari kalangan menengah ke atas. PTS kecil ini yang justru banyak bantu negara, karena jumlah PTS yang paling banyak itu yang kecil-kecil, kalau yang besar hanya 10 persen saja,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Aptisi, sebaran PTS yang banyak mahasiswanya menunggak terbesar ada di Pulau Jawa. “Kalau Provinsi Jawa barat dan Banten, Jawa Tengah, tapi selisihnya sedikit karena kan paling banyak PTS ada di provinsi ini,” kata dia.

Ia berharap, semua pihak khususnya pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat dan BUMN membantu permasalahan PTS kecil tersebut. “Sekarang tidak bisa mengandalkan pemerintah saja, karena mengandalkan pemerintah itu kita tahu sendiri pemerintah dalam kondisi ini banyak prioritasnya,” ungkapnya.

Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Profesor Masykuri mengakui ada sejumlah kesulitan yang dihadapi kampus swasta selama pandemi. “Jadi saya pikir hampir seluruh perguruan tinggi mengeluh hal yang sama,” kata Masykuri yang juga menjabat ketua umum Forum Rektor Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) se-Indonesia.

Ia mencontohkan, terkait pelaksanaan pembelajaran daring, mulai dari keterbatasan jangkauan sinyal hingga kondisi perekonomian mahasiswa.

Masykuri menyatakan, Unisma telah mengeluarkan hampir Rp 10 miliar untuk membantu pembelajaran daring  mahasiswa selama semester ganjil dan genap. “Sampai-sampai kita punya perencanaan untuk melengkapi fasilitas menjadi tertunda karena terbawa pulsa dan sebagainya,” kata dia. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*