
JoSS, JAKARTA – Pemerintah telah merilis paket-paket biaya pelatihan online bagi 200.000 peserta kartu prakerja yang menjadi bagian dari 2 juta peserta program ini yang diumumkan lolos pada tahap pertama. Namun, dilihat dari cara kerja dan tarif biaya pelatihan online dinilai mahal. Pasalnya, materi pelatihan banyak dijumpai google dan youtube, gratis.
Direktur Eksekutif EconAct, Ronny P Sasmita, menilai bahwa kartu prakerja ini mirip dengan kartu belanja untuk gerai online. Produknya berupa video dan materi yang disediakan oleh semua startup yang ditunjuk.
“Ini pemerintah kayak bangun Mall Online Khusus Pelatihan, dimana semua start up itu adalah para pedagangnya (merchant), kayak kartu transmart atau kartu alfamart gitu, walau beda konteks,” ungkapnya seperti dikutip dari Liputan6.com, belum lama ini.
Menurut Ronny, tanpa kartu prakerja-pun, para pencari kerja dapat mengakses model pembelajaran yang sama melalui platform digital yang tidak berbayar, misalnya youtube.
“Saya sih super yakin, kalau anda ketik semua materi yang mereka tawarkan di sana di google atau youtube, anda akan mendapat pilihan yang jauh lebih banyak, dan gratis pula. Percaya deh!” jelasnya.
Ronny juga menilai ada pemahaman yang kurang tepat soal skill, dimana pemerintah mendangkalkan makna skill hanya dengan nonton video dan baca materi aja. Sementara skill yang dirujuk sebagai prasyarat untuk mendapat kerja, lebih dominan unsur pengalamannya alias praktek.
“Kenapa anda dibilang jago di suatu bidang? Karena anda berpengalaman alias mempraktekan bidang itu almost in entire of your working life, bukan karena anda dari pagi sampai malam nonton video,” kata Ronny menegaskan.
Baca juga: Menunggu Debat Terbuka Ekonom Bhima dan Belva Staf Khusus Presiden
Harga beberapa kursus online Kartu Prakerja 2020 yang dipersoalkan diantaranya, di Platform Skill Academy yang dimiliki Ruangguru, contohnya, sejumlah paket pelatihan dihargai Rp 1 juta.
Direktur Komunikasi Manajemen Pelaksana Prakerja Panji Winanteya Ruky mengatakan, jenis pelatihan maupun harga yang ditetapkan sepenuhnya berada di tangan mitra penyelenggara pelatihan Kartu Pekerja.
“Ada ribuan jenis pelatihan disediakan oleh lebih dari 200 lembaga pelatihan melalui delapan mitra platform digital. Mereka bersaing untuk memberikan layanan dan produk dengan harga terbaik,” jelas Panji dalam keterangannya, seperti dikutip, Senin (20/4).
Menurut Panji, terlepas dari harga, peserta diberikan kebebasan memilih pelatihan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. “Pelatihan yang mahal belum tentu akan laku. Pelatihan yang kelihatannya murah belum tentu diminati,” kata dia lagi.
Dalam program Kartu Prakerja 2020, pemerintah memberikan biaya sebesar Rp 3.550.000 untuk membayar biaya pelatihan (kursus) dan insentif bagi pesertanya. Dana tersebut akan ditransfer lewat rekening atau dompet digital (e-wallet).
Pagu untuk membayar pelatihan ditetapkan sebesar Rp 1 juta. Sementara untuk insentif, terdiri dari dua bagian, yakni insentif pasca-penuntasan pelatihan pertama sebesar Rp 600.000 per bulan selama empat bulan (Rp 2.400.000). Lalu, insentif pasca-pengisian survei evaluasi sebesar Rp 50.000 per survei untuk tiga kali survei (Rp 150.000). Peserta dapat mengambil pelatihan selanjutnya apabila sudah menuntaskan pelatihan yang pertama.
Jika telah menerima dana tersebut di rekeningnya, maka peserta Kartu Pekerja bisa memilih pelatihan atau kursus yang disediakan secara online. Ada delapan mitra yang ditunjuk pemerintah sebagai penyelenggara pelatihan Kartu Pekerja di Prakerja.go.id. (lna)

Leave a Reply