
JoSS, SEMARANG – Seorang professor di Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengekspresikan pendapat dan rasa hatinya tentang wabah Virus Corona (Covid-19) melalui sebuah puisi jawa atau yang popular disebut geguritan. Puisi yang diiberi judul Horeg Karana Corona atau Prahara Corona itu, terbagi dalam 4 bait dan 27 baris itu merupakan refleksi mendalam dari sang professor.
Adalah Prof Dr Ir Sri Puryono KS MP, pengajar di Program Studi Lingkungan Undip, yang menyebar geguritannya untuk direnungkan bersama hikmah dan perjalanan hidup yang mesti ditempuh. Puisi yang ditulis 18 Maret 2020 oleh mantan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah itu, selain mendeskripsikan secara cermat wabah Corona yang terjadi sekarang, juga memberi makna hasil renungannya yang mengajak semua pihak tetap optimistik.
“Saya memang suka menulis geguritan sejak dulu. Saya merasa lebih mampu mengekspresikan rasa batin saya dalam bahasa Jawa. Tapi, supaya bisa berguna untuk orang banyak, saya buat juga dalam bahasa Indonesia,” kata Sri Puryono kepada joss.co.id, Rabu (18/3/2020).
Menurut dia, wabah atau prahara ini karena ulah manusia sendiri. Akibatnya, ada istilah lockdown atau isolasi di beberapa negara, atau meliburkan kegiatan dan meniadakan keramaian. Tapi itu semua sifatnya sementara. “Sepinya dunia ini hanya sementara, prahara juga tidak akan selamanya. Bahaya pergi, kebahagiaan akan datang,” tutur ahli tentang pesisir pantai dan wawasan nasional kelautan ini.
Prahara atau Wabah juga bisa berguna untuk mengingatkan kita semua agar tahu kapan harus bicara lantang tentang kebenaran, dan kapan diam untuk kebenaran. “Corona jadi pengingat manusia untuk mawas diri,” tegasnya.
Sri Puryono sebelum menjadi guru besar di Program Ilmu Lingkungan Undip, adalah birokrat yang lama berkarir di Pemprov Jateng. Dia pernah selama 7 tahun menjabat sebagai Sekretaris Daerah jika masa jabatannya dihitung semenjak menjadi Plh dan Plt Sekda Jateng. Puryono yang menjadi salah satu lulusan terbaik KRA Lemhanas ini juga aktif berkesenian sejak muda.

Berikut kutipan lengkan geguritan dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
HOREG KARANA CORONA (PRAHARA CORONA)
Tekan dina iki donya horeg
Horeg ing nala dudu horeg kasatmata
Dalan-dalan papan karameyan mesjid greja pura beda karo sadurungira
Para bakul para pangudi boga njola
Sepi kang ngiseni sepi kang nukoni
Nanging kabeh manungsa atine rame gedhe kuwatire
Mengko gek Corona liwat Corona mampir
Mangka tan kasat mata tan ngerti kapan le tekane
Corona kang nggegirisi
Corona kang agawe pati
Kaya gawe manungsa lali
Yen duwe Gusti
***
Lali yen panguwasa sejati ing Astane Gusti
Nanging apa mangkono kuwi
Dudu Rekadaya manungsa ora ndhuwa kersa-Ne Kang Kuwasa
Rekadaya manungsa iku pengin medhot tumangkare memala
Corona kudu sirna
***
Horeging pambudidaya
Horeging nala kaya padha nanging beda
Pambudidaya kanggo ngudi amrih slameting nyawa kawula
Nala horeg merga winates polahira
***
Sepinira mung kanggo sawetara
Horegira datan salaminya
Memala lunga bagya mulya teka
Corona dadi sarana ndhadha yen manungsa
Kudu bisa milah milih patrapira
Kapan mardika kapan kinunjara.
Terjemahannya sbb:
PRAHARA CORONA
Sampai detik ini dunia bergelora
Prahara di dunia maya dan dunia nyata
Jalan-jalan, tempat keramaian, masjid, gereja, sekolah berbeda dari biasanya
Para pedagang makanan kaget
Sepi dari pemasok dan sepi pembeli
Namun hati manusia bergemuruh penuh kegalauan
Jangan-jangan Corona datang menghampiri bahkan menjangkiti
Tanpa terlihat dan tanpa terasa
Corona yang berbahaya
Corona yang mematikan
Sepertinya membuat manusia lupa akan Tuhannya
***
Lupa…kalau punya Tuhan
Lupa bahwa kekuasaan tertinggi di tangan Tuhan
Namun apakah seperti itu
Bukan…
Usaha manusia tidak bisa mendahului keinginan Tuhan yang Maha Kuasa
Walau manusia ingin mengakhiri prahara Corona
***
Prahara dunia ini berbeda
Dengan ributnya usaha manusia menyelamatkan dunia
Prahara ini karena ulah manusia sendiri
***
Sepinya dunia ini hanya sementara
Prahara juga tidak selamanya
Bahaya pergi
Kebahagiaan kan datang
Corona jadi pengingat manusia tuk mawas diri
Kapan bicara lantang tentang kebenaran
Kapan diam untuk kebenaran
Semarang 18 Maret 2020 (awo)

Leave a Reply