PTDI Luncurkan Pesawat Udara Tanpa Awak, Terbang mulai 2020

Pesawat Nir Awak Puna Male | Foto: ristekdikti

JoSS, BANDUNG – PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi meluncurkan Pesawat Udara Nir Awak jenis Medium Altitude Long Endurance (PUNA MALE). Peluncuran dilakukan di Hangar Rotary Wing PTDI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Senin (30/12).

Direktur Utama PTDI, Elfien Goentoro mengatakan, PUNA MALE merupakan pesawat menangkal ancaman teritorial seperti penyelundupan, pembajakan, terorisme, serta pencurian sumber daya alam. “Tahun depan targetnya bisa terbang perdana. Sekarang masih development manufacturing,” kata Elfien di Hangar Rotary Wing PTDI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Seperti dikutip dari Ayobandung.com, Dia menjelaskan, pesawat itu hanya membutuhkan landasan sepanjang sekitar 700 meter untuk lepas landas maupun mendarat serta mampu terbang hingga setinggi 20 ribu kaki dengan kecepatan maksimum 235 kilometer per jam.

“Pesawat ini dirancang untuk mampu terbang selama 30 jam di udara. Untuk sertifikasinya kita targetkan tahun 2024. Nanti dilengkapi dengan rudal,” kata dia.

Baca juga: 240 Perwira Baru TNI AU Menyongsong Pesawat Tempur F-16

Elfien mengatakan bahwa pada tahun 2020 akan dibuat dua lagi prototipe pesawat nirawak itu, masing-masing untuk uji terbang dan uji kekuatan struktur di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pada tahun yang sama, proses sertifikasi produk militer juga akan dimulai. Pesawat nirawak itu diharapkan pada akhir tahun 2021 sudah mendapatkan sertifikat tipe dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan pesawat PUNA MALE juga akan disiapkan untuk mendukung pengawasan hutan dan lahan.

“Karhutla itu setiap tahun terjadi, itu butuh pengawasan yang terus terhadap awan, terhadap cuaca, terhadap titik panas, terhadap tinggi muka air dari lahan gambut,” kata Hammam.

Ia menjelaskan, teknologi sintetik aparatur radar yang akan dipasang di PUNA MALE memungkinkan pemeriksaan kandungan air hingga menembus 30 cm di bawah permukaan tanah.

“Jadi kita bisa mengukur seberapa banyak air yang dikandung. Sebelum tanah itu kering, kita bisa sirami itu, sehingga tidak muncul kebakaran hutan dan hotspot (titik panas),” kata dia. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*