JoSS, JAKARTA – Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan bahwa polusi akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang terjadi hampir disetiap tahunnya dapat membahayakan hidup 10 juta anak.
Wakil UNICEF untuk Indonesia, Debora Comini mengatakan setiap tahun, jutaan anak menghirup udara beracun yang mengancam kesehatan hingga mereka terpaksa bolos sekolah, menyebabkan kerusakan fisik dan kognitif mereka. “Kualitas udara buruk merupakan tantangan bagi Indonesia,” ujarnya, seperti dikutip AFP.
Comini menjelaskan bahwa hampir 10 juta anak di bawah usia 18 tahun tinggal di kawasan yang paling rawan terkena dampak karhutla di Sumatera dan Kalimantan.
Menurut Comini, anak di rentang usia tersebut sangat rentan karena perkembangan sistem imun mereka belum sempurna.
Sementara itu, anak dari ibu yang terpapar polusi selama masa kehamilan juga berpotensi lahir dengan berat badan kurang dan prematur.
Tak hanya itu, kabut asap akibat karhutla juga memaksa sekolah-sekolah di kawasan terkena dampak tutup sehingga siswa tak bisa melanjutkan proses belajar.
Bukan hanya Indonesia, kabut asap ini juga membuat ratusan sekolah di Malaysia tutup pada pekan lalu. Namun memasuki pekan ini, pemerintah Malaysia dilaporkan sudah kembali membuka sebagian sekolah tersebut.
Indonesia pun terus berupaya memadamkan api di Sumatera dan Kalimantan. Kepolisian juga telah menetapkan 296 orang sebagai tersangka dalam peristiwa karhutla. Selain itu, sembilan korporasi telah ditetapkan sebagai tersangka.
Baca juga: Alat Bantu Pernafasan Bikinan FK UNS Solo Dikirim Ke Riau dan Palangkaraya
Sementara itu, laporan perubahan cuaca dan pemanasan global PBB mengungkap 2019 menjadi tahun ‘terpanas’ dalam periode lima tahun terakhir. Laporan PBB tersebut menuliskan rata-rata suhu global pada 2015-2019 berada dalam jalur ‘terpanas’.
Dikutip dari AFP, iklim periode ini diperkirakan naik 1,1 derajat Celcius di atas era pra-industri (1850-1900) dan 0,2 derajat Celcius lebih hangat sejak 2011-2015.
Empat tahun terakhir ini sudah menjadi terpanas sejak pencatatan iklim dan cuaca dimulai pada 1850.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan saat ini dunia semakin memiliki kesenjangan terkait perubahan iklim. Laporan terbaru merinci sejauh mana kesenjangan yang harus dilakukan dengan apa yang terjadi semakin melebar.
Alih-alih berkurang, karbon dioksida tumbuh dua persen pada 2018, mencapai rekor tertinggi 37 miliar ton. AFP menuliskan saat ini belum ada tanda untuk mencapai ‘emisi puncak’, yakni titik di mana level emisi karbon akan mulai turun.
Perjanjian Paris 2015 mencatat negara-negara yang menetapkan target nasional agar mengurangi emisi agar membatasi kenaikan suhu jangka panjang di bawah dua derajat celcius atau idealnya 1,5 derajat celcius di atas tingkat pra-industri.
Perjanjian tersebut menjadi tolak ukur yang akan membatasi dan mengatasi dampak pemanasan pada sistem cuaca dunia. Namun, laporan ini menuliskan, jika semua negara telah memenuhi tujuan pengurangan emisi, dunia tetap akan ‘menghangat’. (lna)

Leave a Reply