
JoSS, SEMARANG – Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang menyesalkan adanya tindakan represif dan ungkapan rasial kepada mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, sehingga menyulut kerusuhan di Manokwari dan beberapa tempat di Papua dan Papua Barat.
Koordinator Pelita Semarang Setyawan Budy saat berkunjung ke Press Room di Gedung Gubernuran di Semarang, Selasa (20/8) mengatakan pihaknya sangat menyesalkan dan menyayangkan terjadinya tindakan dan ucapan bernada rasialisme oknum aparat dan ormas saat peristiwa persekusi mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, (16-17/8) lalu.
Dalam pernyataan sikapnya, para tokoh lintas agama menyatakan bahwa rasialisme adalah tindakan yang melanggar norma universal hak asasi manusia mengenai prinsip kesederajatan martabat sesuai yang tertulis baik dalam “Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial” yang disepakati oleh negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) termasuk Indonesia dan Undang-Undang Republik Indonesia No 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.
“Untuk itu, segala hal yang berhubungan dengan perendahan martabat seseorang atau sekelompok orang atas dasar perbedaan rasial, etnis, agama, dan bahasa tidak dibenarkan,’’ kata Budy.
Baca juga: Ganjar Jamin Keamanan Mahasiswa Papua di Jateng
Yang disayangkan adalah peristiwa itu hanya terjadi tepat sehari setelah Peringatan 74 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bersikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan ras, etnis, agama, bahasa, dan adat istiadat. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk sejak awal oleh karenanya sikap yang luwes dan toleran dalam hidup bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat adalah sebuah keniscayaan yang selalu harus diusahakan,’’ ujarnya seperti dikutip dari Beritasatu.com, Selasa (20/8).
Pendeta Rahmat Rajagukguk dari PGI Wilayah Jateng mengajak masyarakat untuk memelihara kerukunan dan perdamian. “Mari kita rajut persaudaraan dalam perbedaan,’’ ujarnya.
Romo Didit dari Keuskupan Agung Semarang mengajak masyarakat untuk mendorong semangat dan sikap persaudaraan dalam keberagaman pada laku hidup sehari-hari dengan merangkul orang yang datang dari daerah lain untuk bersekolah dan atau bekerja sebagai bagian dari komunitas masyarakat sendiri.
Dwi dari Perempuan Penghayat Jawa Tengah mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi dan meminta agar semangat kemerdekaan 17 Agustus dapat menjadi pemersatu dan menguatkan perdamaian. ‘’Kami sangat menyayangkan insiden itu, dan kami ada di sini bersama Papua.” (lna)

Leave a Reply