Dahlan Iskan: Kemana Pasukan ‘Elite’ PLN Penjaga SUTET?

Dahlan Iskan | Foto: google

JoSS, SEMARANG – Mantan Dirut PT PLN Dahlan Iskan turut berkomentar terkait tuduhan terhadap pohon sengon di wilayah Gunungpati Semarang yang menjadi biang kerok padamanya listrik di separuh pulau Jawa.

Mantan Menteri BUMN itu menuangkan opininya dalam catatan hariannya yang berjudul “Sengon 1 Triliun”, di laman pribadinya DI’s way.id.

Dahlan menyinggung masalah pohon sengon yang dituding sebagai penyebab matinya listrik secara massal.  “Pohon sengonnya ada di Desa Malon. Nun jauh di Gunung Pati, 28 km selatan Semarang. Mati listriknya sampai Jakarta,” kata Dahlan.

Menurut Dahlan, pohon sengon itu harus diabadikan dalam bentuk foto dan dijadikan monumen. Sehingga, bisa jadi pelajaran untuk generasi selanjutnya.

Apalagi, kata Dahlan, pohon itu mahal harganya. Pohon sengon membuat jutaan orang menderita. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sampai marah karena masalah ini. “Bahkan PLN sendiri sampai harus mengeluarkan ganti rugi kepada konsumen. Nilainya hampir Rp 1 triliun,” ujar Dahlan.

Namun, Dahlan bilang, pohon sengon tidak salah. Pohon sengon tumbuh di dalam pagar penduduk.

Tinggi tiang SUTET itu 40 meter. Tapi bentangannya menggelayut. Tinggi 18 meter. Tinggi sengon itu sekitar 15 meter. Sudah mencapai medan magnet SUTET. Dalam catatannya, Dahlan pun menyentil pohon sengon pun berhak bertanya:

Mengapa dibiarkan tumbuh tinggi di situ? Mengapa tidak ada yang tahu? Apakah tidak ada lagi anggaran untuk patroli pohon? Mengapa ada kebijakan anggaran ini–bahwa biaya operasi dan pemeliharaan harus di bawah anggaran SDM?

Baca juga: Kemendag Pastikan Pelanggan PLN Dapat Kompensasi

Mengapa SUTET itu begitu rapuh? Hanya kesenggol satu pohon sudah pingsan?

Dahlan menyebutkan alasan logis kenapa mati listik bisa terjadi. Dua jalur SUTET yang mengirim listrik dari Jawa Timur ke Jakarta (jalur tengah dan jalur utara) dan sekitarnya sama-sama tidak dapat digunakan. SUTET tengah sedang perbaikan, SUTET utara tersenggol pohon sengon.

“Hari Minggu ada perbaikan SUTET jalur tengah. Di timur Tasikmalaya. SUTETnya dimatikan. Dengan pertimbangan sangat rasional: pada hari Minggu beban listrik di sekitar Jakarta turun drastis. Cukup dilayani jalur utara,” ujarnya.

Akhirnya, arus listrik jadi kacau balau. Karena hal ini, Dahlan jadi teringat akan pasukan khusus PLN yang dulu pernah dibentuk untuk memelihara SUTET tanpa harus mematikan sistem.

“Ada pertanyaan kecil: ke mana pasukan Kopassusnya P2B? Yang dibentuk dulu itu? Yang bisa memelihara SUTET tanpa harus mematikan sistem itu?,” tulisnya.

Dahlan menambahkan, pasukan ini punya pekerjaan khusus, dengan baju khusus dan kemahiran khusus. Namun sebelum bencana mati listrik terjadi, pasukan ini tidak kelihatan batang hidungnya.

Selain itu, PLN punya departemen khusus yang dinamakan P2B. Isinya, ahli listrik yang mengatur seluruh sistem listrik di Jawa. Dahlan menyebutnya “otak”nya listrik.

P2B, dinilai Dahlan, perlu terus berkoordinasi setidaknya setiap tiga bulan untuk mengevaluasi perkembangan sistem listrik di Jawa. Lagi-lagi, Dahlan mempertanyakan kelangsungan rapat evaluasi tersebut.

“Adakah rapat itu masih ada? Atau sudah ditiadakan? Rapat-rapat P2B tidak boleh dianggap rapat biasa –yang bisa dihapus demi penghematan. Demi laba,” tuturnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*