JoSS, JEPANG – Setelah lebih dari 3 dekade dihentikan, Jepang kembali melegalkan penangkapan ikan paus. Keputusan kontroversial itu dilakukan pasca penarikan diri Jepang dari International Whaling Commission (IWC) atau Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional pada Minggu (30/6) lalu.
Alhasil, Negeri Matahari Terbit itu mendapat kecaman dunia internasional. Para aktivis lingkungan hidup dunia langsung mengkritik di mulainya kembali perburuan ikan paus dengan pertimbangan konservasi dan perlindungan hewan.
Bahkan, sebelum digelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Osaka, Jepang pada 28-29 Juni lalu, para pencinta lingkungan sudah mendengar rencana mundurnya Negeri Sakura itu dari IWC. Para aktivis meminta pemimpin negara di G20 untuk mendesak Jepang agar menegakkan larangan perburuan paus komersial.
“Sementara Pemerintah Jepang bangga menjadi tuan rumah pertemuan G20, tapi diam-diam melepaskan diri dari kewajiban untuk kolaborasi global tentang perlindungan dan pengelolaan paus dunia,” kata Kitty Block, presiden dari Humane Society International, salah satu organisasi perlindungan hewan terbesar di dunia dalam pernyataan resminya.
“Jepang meninggalkan IWC dan menentang hukum internasional untuk mengejar ambisi perburuan paus komersial. Ini adalah pembangkang, mundur dan rabun,” tegas Block seperti dikutip www.dw.com atau online media Deutsche Welle asal Jerman.
Selebriti Stephen Fry dan Ricky Gervais serta ilmuwan Jane Goodall yang merupakan salah satu lebih dari 100 aktivis dan badan amal konservasi meminta para pemimpin negara yang hadir dalam KTT G20 untuk melarang tuan rumah Jepang melanjutkan perburuan paus komersial.
Baca juga: 40 Ton Sampah Plastik Diangkat Dari Samudera Pasifik
Surat resmi sudah dikirim ke semua pemimpin G20 dan mendesak mereka untuk menggelar ‘intervensi perburuan paus internasional’ di KTT dan mendorong untuk mengakhiri semua perburuan paus komersial.
Kelompok-kelompok konservasionis seperti Greenpeace atau Sea Shepherd juga tetap kritis terhadap dimulainya kembali perburuan paus tersebut. ”Jepang tidak sejalan dengan komunitas internasional,” Sam Annesley, direktur eksekutif Greenpeace Jepang dalam sebuah pernyataan seperti dikutip bbc.com, media asal Inggris
Dia menambahkan, pihaknya mendesak Tokyo untuk membatalkan rencana perburuan paus komersial itu. Namun Pemerintah Jepang justru menentang kritik dan tetap melakukan perburuan paus. Pihaknya beranggapan kemungkinan besar masalah yang diperdebatkan akan berangsur-angsur mereda dengan sendirinya.
Sementara pada Senin (1/7) pagi, sekitar lima kapal nelayan dengan tombak yang disembunyikan di bawah terpal meninggalkan Kushiro di kawasan Jepang bagian utara. Pada waktu yang sama, tiga kapal penangkap ikan paus juga meninggalkan Shimonoseki di barat daya Jepang.
Mereka bersama-sama akan membunuh 227 paus hingga akhir Desember mendatang. Kuota itu mencakup 52 ekor paus minke, 150 ekor paus Bryde dan 25 ekor sei. Dinas Perikanan setempat sempat menunda mengumumkan kuota sampai KTT G20 di Osaka berakhir pada Sabtu (29/6) lalu.
”Hati saya dipenuhi dengan kebahagiaan, dan saya sangat tersentuh,” kata Yoshifumi Kai, kepala Asosiasi Penangkapan Ikan Paus Tipe Kecil Jepang saat upacara yang dihadiri oleh politisi, pejabat lokal, dan pemburu paus. (lna)

Leave a Reply