
JoSS, SOLO – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Solo akan berupaya menstabilkan harga ayam yang stabil di harga rendah. Pihaknya berupaya mempertemukan peternak ayam rakyat dengan pengusaha.
Menurut Wakil Ketua TPID Kota Solo, Bandoe Widiarto, pihaknya sangat berharap mampu mencarikan solusi untuk menstabilkan harga jual ayam di tingkat peternak.
“Kami berharap bisa mempertemukan peternak rakyat ini dengan pengusaha. Langkah ini bisa menstabilkan harga, karena anjloknya harga ayam di tingkat peternak ini harus dibenahi dengan mekanisme pasar,” katanya, belum lama ini seperti dikutip dari Joglosemar.com.
Menurutnya, salah satu caranya adalah dengan membuat kontrak jangka panjang antara pengusaha dengan pedagang. Dengan begitu, para peternak bisa memasok ayam kepada perusahaan dengan harga yang sudah disepakati sejak awal.
“Maka kami akan mengkoordinasikannya dengan Dinas Perdagangan Kota Solo, menjajaki segala kemungkinan,” tuturnya.
Sebelumnya, Pinsar Jateng melakukan aksi protes dengan membagi-bagikan rinuan ayam kepada warga Kota Solo. Hal itu dilakukan dipicu oleh anjloknya harga ayam di tingkat peternak.
Ribuan ekor ayam dibagikan secara gratis di lima kecamatan di Solo, Rabu (26/6) Warga pun menyerbu lokasi pembagian sejak pagi. Di Kecamatan Jebres, warga sudah mulai berdatangan sejak pukul 08.00 WIB. Namun acara baru dimulai pukul 10.00 WIB.
Baca juga: Pemutihan PBB Solo Diperpanjang Hingga Agustus
Pembagian ini diinisiasi oleh Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah dan DIY. Acara serupa juga digelar di daerah lain, yaitu Klaten, Semarang dan Yogyakarta.
Ada 10 ribu ayam yang disiapkan untuk pembagian di Solo Raya. Yakni 8 ribu ekor untuk Kota Solo, sisanya dibagikan di Klaten.
Ketua Pinsar Jateng, Pardjuni, mengatakan pembagian ayam gratis ini merupakan sedekah dari peternak sekaligus bentuk protes kepada pemerintah. Sebab saat ini harga jual di tingkat peternak sangat rendah.
“Penyebabnya jumlah bibit ayam yang beredar terlalu banyak sehingga over supply, harganya anjlok. Daripada kita buang, lebih baik kita sedekahkan kepada masyarakat saja,” katanya di sela-sela pembagian ayam di Kecamatan Jebres.
Mereka mendesak pemerintah untuk melakukan tindakan untuk menyelamatkan peternak ayam. Jika kondisi ini terus berlangsung sampai 1-2 bulan ke depan, peternak rakyat diyakini akan gulung tikar.
“Kondisi ini berlangsung sejak 10 bulan yang lalu. Kami sudah bertemu dengan pemerintah, tapi belum ada tindakan. Kami harap ada pembatasan jumlah bibit,” ujarnya.
Saat ini harga ayam hidup di tingkat peternak dijual sekitar Rp9.000/kg. Padahal jika sesuai harga acuan Kementerian Perdagangan, harga ayam hidup seharusnya Rp18.000 – Rp20.000/kg.
“Ini sudah parah sekali, bahkan lebih parah dibandingkan saat ada flu burung. Ini harus ditangani di tingkat pemerintah pusat,” tutupnya. (lna)

Leave a Reply