Sungai di Pekalongan Terekam Berwarna Hitam oleh Citra Satelit

JoSS, PEKALONGAN – Pencemaran limbah batik acapkali disinggung berbagai kalangan. Termasuk apa yang dilontarkan warga Pekalongan yang juga mahasiswi Untag Semarang, Iyeng Sri Setyawati saat menyambut Hari Jadi Kota Pekalongan Kota, Sabtu (6/4) lalu.

Ia menyebut, warna sungai di Kota Pekalongon menyerupai kuah sotong masakan hitam. Bahkan melalui foto citra satelit, hitamnya air Kali Lohji, sungai di Kota Pekalongan terlihat sangat jelas. Sebagian warga pun mengakui kondisi sungai di Kota Pekalongon tak seperti dahulu.

Seperti diungkapkan Ahmad Udin (41) warga Saputro Kebulen Kecamatan Pekalongon Barat. Ia menerangkan, Kali Lohji dan sungai lainnya kini berwarna hitam karena tercemar pewarna batik.

“Saya masih ingat saat masih kecil sering bermain di Kali Lohji. Menggunakan perahu terkadang saya mencari ikan serta udang. Dahulu air masih jernih bahkan batu di dasar sungai bisa terlihat,” paparnya, Selasa (9/4) seperti dirilis Tribunjateng.com.

Dikatakannya, pada era 80 hingga 90, sungai masih bersih. Namun menginjak era berikutnya, beberapa sungai di Kota Pekalongan mulai keruh karena limbah.

“Saat itu duduk di bangku SMA. Baik itu Kali Lohji maupun sungai lainnya sudah berubah menjadi hitam,” terangnya.

Kini kondisi sungai semakin parah, warga asli Kota Pekalongan itupun pesimis sungai bisa dikembalikan kondisinya seperti dahulu kala.

“Karena semakin banyak orang yang membuang limbah batik ke sungai,” ujarnya.

Baca juga: Normalisasi Sungai Juwana Terhambat Puluhan Kapal Mangkrak

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan mencatat setidaknya 5 juta liter limbah setiap hari dihasilkan oleh industry batik di seluruh Kota Pekalongan.

Dari total keseluruhan limbah yang dihasilkan industry batik itu, Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang ada di Kota Pekalongan baru bisa menampung 45 persennya. Sedangkan sisanya terbuang begitu saja ke sungai.

Itu pula yang menjadi alas an DLH Kota Pekalongan mendorong agar para perajin batik dapat membuat IPAL komunal di lingkungannya masing-masing.

“Kami sadari pembuatan IPAL membutuhkan biaya. Tapi kalau terus dibuang ke sungai, lingkungan akan semakin tercemar,” papar Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan DLH Kota Pekalongon, Erwan Setiawan, Selasa (9/4).

Ia juga menjelaskan, limbah yang dibuang ke sungai tidak hanya dari Kota Pekalongan. Bahkan dari Kabupaten Pekalongan juga ada yang dibuang ke sungai.

“Karena kami selalu melakukan penelitian setiap triwulan sekali. Kami mengambil contoh air di perbatasan sungai kota dan kabupaten, hingga hilir sungai. Hasilnya dari perbatasan sungai sudah ada pencemaran pewarna tekstil,” paparnya. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*