
JoSS, MADIUN – Bupati Madiun Ahmad Dawami menetapkan status darurat bencana banjir di wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sebanyak 1.633 rumah terendam banjir dan memaksa 6.000 warga mengungsi akibat banjir yang terjadis ejak dua hari terakhir.
Status darurat bencana banjir ditetapkan mulai tanggal 6-19 Maret 2019 tertuang dalam surat keputusan yang ditandatangani Bupati Madiun Ahmad Dawami pada Rabu (6/3) malam.
Dengan ditetapkannya status darurat bencana banjir, maka biaya yang timbul untuk penanganan bencana tersebut akan ditanggung oleh APBD Kabupaten Madiun.
“Semua konsentrasi korban banjir. Pemkab juga telah mendirikan posko bencana di tiap kecamatan yang terdampak banjir, puskesmas juga siaga,” ujar Bupati Dawami kepada wartawan di lokasi banjir di wilayah Balerejo, Kamis (7/3), seperti dikutip dari Bisnis.com
Hingga Kamis pagi, banjir terpantau sudah menyusut drastis. Meski demikian, masih terdapat genangan di sejumlah titik dengan ketinggian air bervariasi. Warga diminta tetap waspada, karena curah hujan diperkirakan maasih cukup tinggi.
Sementara itu, sejumlah bantuan logistik untuk korban banjir di Kabupaten Madiun mulai berdatangan. Bantuan tersebut selain dari Pemkab Madiun juga dari relawan dan komunitas.
Baca juga: Kudus Banjir Bandang Jalur Pantura Tersendat
Data BPBD Kabupaten Madiun mencatat, wilayah terdampak banjir terdapat di 35 desa di delapan kecamatan. Meliputi Kecamatan Madiun, Saradan, Pilangkenceng, Balerejo, Wungu, Sawahan, Mejayan, dan Wonoasri.
Wilayah Balerejo, Saradan, dan Pilangkenceng merupakan daerah yang cukup parah terdampak bencana alam tersebut.
Sebanyak 1.633 rumah di Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, terendam air, Rabu (6/3). Selain merendam ribuan rumah tersebut, banjir bandang juga membuat sekitar 6.000 warga di Kecamatan Pilangkenceng harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Rabu (6/3) pagi, ratusan rumah masih terendam air setinggi mulai setengah meter hingga 2 meter. Aliran air di wilayah itu cukup deras sehingga membuat sejumlah rumah rusak.
Kapolsek Pilangkenceng, AKP Sumantri, mengatakan untuk rumah yang terendam air saat ini terdata ada 1.633 rumah. Untuk warga yang menjadi korban mencapai 6.000 orang.
Dia menuturkan untuk di Kecamatan Pilangkenceng ada sejumlah desa yang dilanda banjir bandang. Yang paling parah ada di Desa Purworejo dengan jumlah rumah yang kemasukan air mencapai 925 rumah. Sedangkan warga yang menjadi korban ada sebanyak 2.600 orang.
Untuk di Desa Wonoayu ada delapan RT yang terdampak banjir dengan rumah yang terendam sebanyak 283 rumah dan warga yang menjadi korban 900 orang. Desa Kedungrejo ada sebanyak 424 rumah yang terendam dan jumlah warga yang terdampak ada 2.500 orang.
“Sejauh ini tidak ada korban jiwa dalam banjir bandang yang menerjang wilayah Pilangkenceng. Untuk kerugian materil belum kita hitung,” ujar dia.
Sementara itu, di Kabupaten Madiun wilayah utara banjir mengakibatkan arus lalu-lintas di Jalan Raya Krapyak atau jalur Madiun (Caruban) arah ke Ngawi, terputus, sejak Rabu (6/3) dini hari.
Kapolres Madiun, AKBP Ruruh Wicaksono, mengatakan, saat ini arus lalu-lintas kendaraan yang hendak melintas Jalan Krapyak (Madiun-Ngawi) dialihkan melewati tol. “Kami sudah arahkan petugas lalu-lintas di ujung jalan. Kendaraan kami arahkan untuk lewat tol,” kata Ruruh Wicaksono. (lna)

Leave a Reply