Warga Desa Sade, Tak Bisa Berbahasa Indonesia

JoSS, LOMBOK – Sade adalah salah satu dusun di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak. Suku Sasak Sade sudah terkenal di telinga wisatawan yang datang ke Lombok.

Ya, Dinas Pariwisata setempat memang menjadikan Sade sebagai desa wisata. Ini karena keunikan Desa Sade dan suku Sasak yang jadi penghuninya.

Seperti dirilis Detik.com, berkunjung ke Desa Sade harus didampingi seorang guide yang merupakan masyarakat lokal.

Alasannya agar pengunjung dapat lebih mengetahui tentang Desa Sade dan kebanyakan masyarakat yang berada di dalam desa tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia, hanya bahasa sasak. Sehingga pemuda-pemuda yang telah mengerti bahasa Indonesia inilah yang akan menemani pengunjung.

Mereka menjelaskan berbagai hal tentang Desa Sade dan membantu pengunjung berkomunikasi dengan masyarakan lokal.

Ketika memasuki Desa Sade, rumah-rumah asli penduduk sana berjejer, terdapat beberapa rumah yang mejajakan souvenir seperti gantung kunci, syall tenun, pin, dan souvenir khas sasak lainnya.

Rumah masyarakat Desa Sade sangat berbeda dengan rumah masyarakat pada umumnya. Rumahnya kecil, terbuat dari tanah liat dengan atap jerami.

Rumah penduduk biasanya terdapat 2 ruangan di dalam rumah tersebut. Ruangan pertama untuk tempat beristirahat anggota keluarga, dan ruangan kedua yang letaknya lebih dalam dan lebih tinggi dari ruangan pertama adalah kamar untuk anak gadis sekaligus ruangan yang difungsikan sebagai tempat melahirkan. Ruangan ini juga disatukan dengan dapur di luarnya.

Baca juga: 15 Negara Keluarkan Travel Advice Ke Lombok

Ruangan bagi anak gadis dibuat lebih di dalam bertujuan agar anak gadis tersebut aman. Karena satu tradisi yang tidak kalah uniknya di Desa Sade adalah pernikahan dilakukan bila seorang pemuda berhasil menculik gadis yang ia senangi, atau seorang pemuda dan gadis dari Desa ini menikah dengan melarikan diri atau kabur.

Jadi keluarga sangat melindungi anak gadis mereka dengan membuat kamar peristirahatannya tidak mudah dijangkau. Karena apabila berhasil diculik, si gadis maupun pihak keluarga harus melaksanakan pernikahan tersebut.

Pernikahan di Desa Sade dilakukan antarpenduduk sesama desa yang sebenarnya masih dalam satu garis keturunan. Hal ini bertujuan agar kelestarian dan tradisi mereka tetap bertahan.

Terdapat rumah yang lebih kecil daripada rumah masyarakat Desa Sade pada umumnya. Rumah ini hanya terdiri dari satu ruangan. Rumah ini diperuntukan untuk pasangan yang baru menikah atau masyarakat yang sudah memasuki usia lansia.

Banyak hal yang membuat orang tercengang dengan tradisi masyarakat suku Sasak di Desa Sade.

Mulai dari bagaimana bisa mereka tinggal di rumah yang sangat sempit berdasarkan tanah liat yang ternyata di pel menggunkan kotoran sapi agar retakan-retakan rumah kembali menyatu, bagaimana bisa menikah dengan orang yang berhasil menculik gadis, dan banyak keunikan lainnya seperti mandi di suatu lokasi yang sama karena tidak ada kamar mandi di setiap rumah, melainkan hanya ada tempat permandian yang bisa digunakan oleh masyarakat. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*