
JoSS, JOGJA – Gunung Merapi tercatat enam kali luncurkan awan panas pada Senin (18/2) pagi. Melalui akun twitter resminya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan hal tersebut.
Luncuran awan panas itu keluar dari Gunung Merapi dengan jarak luncur maksimum 1 kilometer ke arah Kali Gendol. Selanjutkan pada pukul 07.32 WIB gunung teraktif di Indonesia itu kembali mengeluarkan awan panas dengan jarak luncur 200 meter ke arah Kali Gendol dan tinggi asap 400 meter.
BPPTKG juga menyebutkan berdasarkan data seismik periode 00.00-06.00 WIB terekam 31 kali gempa guguran dengan durasi 12-92 detik disertai 3 kali guguran lava ke arah Kali Gendol dengan jarak luncur 700-900 meter.
“Luncuran awan panas guguran dan guguran lava berpotensi menimbulkan hujan abu, sehingga warga Merapi diharap tetap tenang serta selalu mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik,” tulis BPPTKG melalui akun twitter resminya.
Baca juga: BPBD Jogja Siapkan Logistik Antisipasi Erupsi Merapi
Menurut analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi yang dirilis BPPTKG untuk periode 8-14 Februari 2019, volume kubah lava gunung itu relatif tetap dengan data pekan sebelumnya yakni mencapai 461.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 1.300 meter kubik per hari. Kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan yang masih rendah, rata-rata kurang dari 20.000 meter kubik per hari.
BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Kegiatan pendakian untuk sementara tidak direkomendasikan, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
“Relawan kami di atas (lereng Merapi) memastikan kondisi masyarakat masih aman dan terkendali. Memang tadi sempat mengeluarkan enam kali sempuran awan panas hingga 1 Km,” ujar Plt Kepala BPBD Klaten Dody Hermanu, Senin (18/2).
Sementara warga 3 desa, yakni Balerante, Sidorejo dan Tegalmulyo Kemalang yang berada di kawasan rawan bencana atau berjarak 5 Km dari puncak Merapi mengaku sudah sering mendengar suara gemuruh. Mereka tetap waspada dan siap mengungsi secara swadaya jika kembali terjadi letusan. (Wiek/lna)

Leave a Reply