Gusdurian Pati dan Pengurus Kelenteng Hok Tik Bio Bagi 2 Ribu Kue Keranjang

JoSS, PATI – Dalam merayakan tahun baru Imlek dan Haul Kesembilan Gus Dur, Kelenteng Hok Tik Bio dan Gusdurian Pati membagikan 2 ribu kotak kue keranjang, Minggu (3/2). Masing-masing kotak berisi 1 kilogram kue.

Ketua Umum Kelenteng Kabupaten Pati, Eddy Siswanto mengatakan pembagian kue keranjang merupakan tradisi rutin tahunan yang dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang.

Eddy menjelaskan, selain menyambut Tahun Baru Imlek 2570 yang akan jatuh pada Selasa, (5/2), pembagian kue tersebut juga bertepatan dengan haul ke sembilan Gus Dur.

“Kita berdoa agar masyarakat Indonesia, khususnya Pati, lancar rezekinya, mendapat keselamatan, serta gemah ripah loh jinawi,” ungkap Eddy usai pembagian kue.

Sementara itu, Bupati Pati Haryanto yang hadir dalam acara pembagian kue tersebut mengatakan kegiatan itu dilandasi oleh perbuatan baik dan mulia.

“Saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri,” tuturnya.

Haryanto berharap, bentuk kebersamaan seperti yang nampak pada pembagian kue hari itu dapat terus ditingkatkan.

“Agar Kabupaten Pati selalu dalam keadaan kondusif serta warganya selalu bersama-sama berperan aktif dalam pembangunan.”

“Baik itu pembangunan budaya, keagamaan, kemasyarakatan, maupun lainnya,” ungkapnya.

Selain pembagian kue keranjang, dalam rangka merayakan tahun baru Imlek, Kelentang Hok Tik Bio juga akan mengadakan acara ramah tamah. Acara tersebut dilangsungkan pada Senin (4/2) malam.

Sedangkan pada Selasa (5/2) akan diadakan kirab barongsai, reog ponorogo, serta marching band. Kelenteng Hok Tik Bio Pati dengan Komunitas Gusdurian memang sudah lama terjalin.

Setidaknya ini terlihat saat munculnya lima gunungan berisi sandang, papan dan pangan. Nantinya, gunungan itu akan diperebutkan oleh warga setempat usai ritual sembahyangan dilakukan.

Baca juga: Kue Keranjang 1 Ton, Semarakkan Cap Go Meh di Pontianak

Bahkan, warga yang dari siang menunggu depan pintu gerbang Klenteng, sudah bersiap-siap membawa kantong maupun tas plastik agar hasil rebutannya bisa di bawa pulang.

Tidak hanya dari anak-anak, bahkan warga yang sudah lanjut usia juga turut serta menunggu pelaksanaan rebutan gunungan tersebut.

Lima gunungan itu dalam filosofi jawa menunjukan ‘dulur papat limo pancer’ yang merupakan kawanan manusia, tidak hanya di alam nyata, tetapi juga di alam gaib.

Itu merupakan filosofi yang digambarkan dalam sebuah gunungan dalam ritual sembahyangan atau ulambana terebut.

Masuknya gunungan tersebut bukan berarti menghilangkan tradisi khas Konghucu. Sebab, itu merupakan bentuk kepedulian kepada KH Abdurahman Wahid yang memperbolehkan warga Konghucu melakukan ritual di Indonesia. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*