Menilik Rumah Kuno Warga Tionghoa di Banyumas

Rumah kuno
Ilustrasi | Foto: okezone

JoSS, BANYUMAS – Warga Tionghoa di Kabupaten Banyumas, khususnya yang bermukim di Desa Sudagaran berupaya melestarikan keberadaan rumah-rumah kuno peninggalan leluhur mereka.

Upaya pelestarian tersebut dilakukan dengan mempertahankan keaslian bentuk bangunan rumah kuno meskipun sedang dilakukan perbaikan maupun renovasi.

“Kami berupaya agar kelestarian rumah kuna ini tetap terjaga. Kalaupun dilakukan renovasi, kami berusaha bentuk bangunan agar tetap seperti aslinya,” kata Ali Kristianto, salah seorang pemilik rumah kuna di Jalan Pungkuran, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Rabu  (30/1).

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan rumah peninggalan keluarga besar bapak mertuanya yang bermarga Tji itu dibangun karena berdasarkan cerita ketika mendiang kakek anak-anaknya lahir, rumah yang berlokasi tidak jauh dari Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas telah ada.

Padahal, kata dia, mertuanya meninggal dunia pada tahun 2000 dengan usia 92 tahun sehingga bangunan rumah kuna tersebut hingga saat ini telah berusia lebih dari 100 tahun.

“Sejumlah komunitas pemerhati bangunan bersejarah termasuk petugas dari dinas terkait sering datang ke sini untuk mempelajari bangunan rumah ini,” katanya.

Menurut dia, hal itu disebabkan rumah kuna peninggalan keluarga besar marga Tji tersebut memiliki beberapa keunikan di antaranya tembok dindingnya cukup tebal karena dibuat dengan menggunakan dua bata, pintunya yang tinggi terbuat dari kayu jati dan belum pernah diganti, kuda-kuda atapnya menggunakan kayu besi, dan bagian depannya terdapat serambi.

Ia mengatakan saat sekarang, bentuk bangunan rumah seperti itu sulit ditemukan sehingga rumah kuno peninggalan keluarga Tji tersebut menjadi benda cagar budaya.

Baca juga: Megandu Dan Tari Janger Kedaton Diusulkan Menjadi Warisan Budaya Tak Benda 2019

Oleh karena itu, kata dia, renovasi yang dilakukan terhadap beberapa bagian rumah selalu dikonsultasikan dengan ahli sejarah melalui Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas.

Kendati demikian, dia mengakui atap rumah tersebut yang semua berupa genting saat sekarang telah diganti dengan asbes.

“Genting kalau sudah terlalu lama bebannya makin berat sehingga kami khawatir kuda-kudanya tidak mampu menahan beban yang beras hingga akhirnya dapat ambruk,” katanya.

Lebih lanjut, Ali mengatakan setelah mertuanya meninggal dunia, rumah tersebut sempat dikosongkan sejak tahun 2000 untuk usaha sarang lawet namun setelah 10 tahun berusaha ternyata tidak mendapatkan hasil.
Menurut dia, keluarga pun akhirnya berupaya agar rumah kuna tersebut tetap lestari seperti aslinya.

“Keluarga besar kami mengusulkan agar rumah ini dijadikan sebagai tempat reuni keluarga marga Tji dan marga Be (marga dari ibu mertua Ali Kristianto, red.). Keluarga kami juga menjadikan serambi depan rumah ini sebagai kafe dengan nama `Kedai Yammie 1001` yang menyajikan masakan berupa mi,” katanya. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*