
JoSS, SOLO – Ribuan warga dari berbagai daerah di sekitar Solo menghadiri tradisi Sekaten atau Grebeg Maulid yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat resmi dimulai Selasa (13/11).
Prosesi yang dilaksanakan dalam rangka menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad itu ditandai dengan ditabuhnya gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari.
Gamelan milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo tersebut dikeluarkan sekitar pukul 10.15 WIB. Dua pasang gamelan dibawa keluar melalui Kori Kamandungan menuju Masjid Agung Solo.
Dikutip dari Solopos, dengan ditabuhnya dua gamelan milik Keraton Solo itu menandai dimulainya acara sekaten. ribuan warga yang datang dari berbagai daerah mulai memadati Masjid Agung sejak pagi.
Dua gamelan keluar dari keraton sekitar pukul 10.15 WIB dan langsung dibawa ke Masjid Agung. Gamelan ditabuh sekitar pukul 13.00 WIB.
Sebelum gamelan dibunyikan terlebih dahulu dilakukan upacara dan pembacaan doa di dalam masjid Agung.
Ketua panitia pelaksana sekaten, Kanjeng Pangeran (KP) Widodo Noto Negoro, mengatakan ditabuhnya dua gamelan itu sebagai penanda dimulainya Sekaten dan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: ESDM Gelontorkan 6.740 Paket Konverter Kit Untuk Nelayan
Kedua gamelan itu, kata dia, akan ditabuh selama tujuh hari berturut-turut sampai puncaknya, Selasa (20/11).
“Tradisi membunyikan dua gamelan di Masjid Agung ini sudah terjadi sejak PB IV,” ujar Widodo.
Gending Rambu dari gamelan Kiai Guntur Madu yang ditabuh di halaman Masjid Agung Solo mengawali prosesi Sekaten yang dilanjutkan Gending Rangkung dari gamelan Kiai Guntur Sari.
“Ya dibunyikan gamelan ini sebagai tanda dibukanya kegiatan acara sekaten. Jumlah penabuh gamelan masing-masing 22 orang, termasuk pemimpinnya atau biasa disebut tindih. Jadi dibagi 11 penabuh di sisi selatan dan 11 penabuh gamelan di sisi utara,” ujarnya.
Menurut Widodo, gamelan ini akan dibunyikan selama tujuh hari berurut-turut yakni pagi sekitar pukul 08.00 WIB, siang sekitar pukul 13.00, dan malam sekitar pukul 19.00 WIB.
Salah satu abdi dalem, Suseno, mengaku membawa gamelan ini tidak berat. Padahal terlihat sekali dia membawa dengan sekuat tenaga.
“Mboten abot [tidak berat], kalau dilakukan dengan sepenuh hati. Mungkin orang menganggap berat karena mereka tidak melakukan dengan sepenuh hati,” ujarnya sambil memanggul tandu gamelan di bahunya. (lna)

Leave a Reply