Makin Mesra Korsel Bakal Bangun Rel Kereta Baru Di Korut

Korea
Presiden Korea Utara dan Presiden Korea Selatan | Foto: google

JoSS, KOREA SELATAN – Hubungan kedua negara yang telah berseteru selama puluhan tahun kini semakin mesra pasca pertemuan kedua pimpinan Korea itu April lalu. Kini bahkan Korea Selatan mengalokasikan dana lebih dari USD264 juta atau setara Rp3,8 triliun untuk membangun rel kereta dan ruas jalan baru di Korea Utara.

Seperti dikutip dari CNNIndonesia seorang sumber dari Kementerian Unifikasi Korsel mengatakan bahwa dana tersebut akan digelontorkan dalam sebuah skema pembiayaan pada awal tahun depan.

Sumber anonim Reuters itu memastikan bahwa pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Amerika Serikat agar dapat menjalankan serangkaian program kerja sama tersebut di tengah sanksi internasional atas Korut.

Lebih lanjut dijelaskan kedua Korea tersebut akan berupaya keras agar program-program kerja kedepan dalat dilaksanakan tanpa hambatan termasuk terus berkoordinasi dengan Amerika Serikat.

“Ini baru perkiraan. Kami akan terus berupaya, termasuk dengan mengoordinasikan kebijakan dengan Amerika Serikat, untuk menjalankan proyek yang disetujui antara kedua Korea tanpa hambatan,” ucap sumber tersebut.

Baca juga: Ke Jepang Ganjar Pastikan PLTU Ramah Lingkungan

Seperti diketahui, rencana pembangunan infrastruktur tersebut muncul setelah Presiden Korsel, Moon Jae-in, menawarkan bantuan pembangunan jalan dan rel kereta api di Korut yang selama ini terbengkalai.

Hal itu telah disampaikan Moon saat bertemu Kim Jong-un pertengahan pada tahun ini.

Sementara itu, AS dan Korsel pun telah sepakat membentuk kelompok kerja untuk mengoordinasikan setiap kebijakan yang akan dilakukan di tengah kekhawatiran Washington akan pendekatan baru Moon ini.

Di sisi lain,  AS sendiri terus berkeras bahwa mereka akan tetap menerapkan sanksi atas Korut selama Pyongyang belum benar-benar melucuti senjata nuklir mereka.

Kesepakatan untuk melakukan denuklirisasi ini tercapai dalam pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Kim pada Juni lalu.

Namun hingga kini, masih ada perbedaan pendapat mengenai diksi “denuklirisasi” yang dimaksud.

Untuk menjaga momentum kesepakatan, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, sudah beberapa kali bertemu dengan pejabat di Korut.

Meski demikian, diskusi lanjutan antara Pompeo dan pejabat tinggi Korut berulang kali batal karena Korut menyebut perundingan ini tak dapat berjalan beriringan dengan sanksi. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*