Bubur Gujarat di Masjid Jami Pekojan, Warisan Kaum Saudagar Ratusan Tahun Lalu   

Bubur Gujarat Tradisi Masjid Jami Pekojan

TRADISI penyediaan bubur India di Masjid Jami Pekojan yang telah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu masih terus dipertahankan hingga kini. Sepanjang bulan Ramadan, sedikitnya 250 porsi bubur khas itu disajikan untuk menu berbuka puasa.

Rasa bubur India itu hingga kini masih sama seperti ratusan tahun silam, saat bubur tersebut diperkenalkan oleh para penjelajah dari Gujarat yang singgah ke Kota Semarang.

Bubur itu kini dibuat Ahmad Ali (55), yang merupakan generasi keempat. Kemampuannya sebagai peracik bubur India merupakan warisan tradisi moyangnya yang berasal dari Suku Koja di Wilayah Gujarat, India.

Ia juga mengaku, tatacara dan bahan yang digunakan masih sama seperti ratusan tahun silam, seperti yang diwariskan oleh leluhurnya. Tak kurang dari 20 kilogram beras yang setara dengan 250 porsi bubur dibikinnya setiap hari.

“Kebetulan saya yang mewarisi jadi juru masak di Masjid Jami Pekojan, saya adalah generasi ke-4. Secara turun-temurun leluhur saya mengajarkan resep ini,” jelas Ali.

Dalam perjalanannya, warga dari Gujarat juga menyebar hingga ke Semarang. Bagi tradisi Gujarat, membuat bubur India sebagai menu takjil berbuka puasa di Masjid Pekojan Semarang sudah dilakukan turun temurun sejak 2,5 abad silam.

“Masaknya harus pakai kayu bakar karena tingkat kematangan lebih merata dan citarasanya tidak cepat hilang,” kata Ali.

Baca Juga:Bubur Samin Banjar, Kuliner Khas Ramadan Yang Selalu Ditunggu Warga Solo

Sembari mengaduk adonan bubur, Ali bercerita, jika bubur India dikenalkan para saudagar Koja yang singgah di Semarang melalui jalur perdagangan. Koja merupakan salah satu suku di Gujarat India yang berdarah pedagang dan petualang. Mereka juga syiar agama Islam di Semarang.

Lalu mereka membuat koloni perkampungan yang sekarang dinamai Kampung Pekojan, di Jalan Petolongan Nomor 1 Semarang. Pekojan juga menjadi salah satu komplek bisnis yang dihuni para keturunan Koja Gujarat.

Bahkan, Komplek Pekojan juga bersebelahan dengan perkampungan bisnis lainnya seperti Pecinan (Cina), Kauman dan Bustaman (Arab), dan Kawasan Kota Lama (Belanda).

Dahulu, menjelang buka puasa, kata Ali, para pedagang akan berbuka puasa dan Salat Magrib di Masjid Pekojan dan mereka membawa bekal makan sendiri.

Seiring berkembangnya kawasan ini, jemaah Salat Maghrib dan berbuka puasa kian bertambah. Tak hanya dari etnis Koja saja, ada juga dari Jawa, Cina, Arab yang ikut singgah beribadah.

Baca Juga: Masjid Agung Kauman Semarang Gelar Festival Kuliner Khas Ramadan

“Para saudagar berinisiatif mengumpulkan bekal untuk menjadi satu santapan bersama menjelang berbuka puasa. Jadilah membuat bubur, sesuai tradisi mereka di tanah asalnya,” jelas Ali.

Pada Ramadan tahun ini, setiap harinya Ali membuat bubur India mulai Pukul 14.00 WIB sampai Pukul 16.00 WIB. Cara memasaknya pun seperti membuat bubur biasanya. Hanya saja ada tambahan rempah-rempah.

Bubur India ini sedikit berbeda dari bubur biasanya, teksturnya lebih encer namun kaya akan rempah-rempah. Ada kayu manis, jahe, laos, serai dan ditambah potongan sayuran seperti seledri dan wortel.

“Bumbu rempah ini dibawa saat para saudagar dan pedagang Koja berdagang di Semarang. Dicampur dengan bubur agar rasanya lebih hangat dan menyehatkan saat berbuka puasa,” jelasnya.

Setelah bubur matang, cara penyajiannya pun unik. Ada sekitar 200-300 mangkuk plastik berwarna-warni diisi dengan bubur India. Lalu ditambah dengan kuliner khas Kampung Bustaman yakni Gulai Bustaman.

Warga sekitar juga banyak yang minta untuk dibawa pulang sebelum dibagi kedalam mangkuk-mangkuk.

“Hari ini bubur India diberi tambahan gulai Bustaman, besoknya bisa ganti opor, sambal goreng, dan lainnya,” katanya.

Mangkuk-mangkuk plastik itu ditata sejajar di serambi Masjid Pekojan. Bersanding dengan gelas warna-warni pula berisi susu, ada juga tambahan takjil berupa buah kurma.

Menjelang waktu berbuka, para jamaah, warga sekitar, para musafir dan kaum dhuafa, akan berkumpul menjadi satu. Saling menghadap pada mangkuk bubur yang telah ditata itu.

“Setiap Ramadan sesekali mampir masjid Pekojan, ikut buka puasa takjil bubur. Saya menyebutnya bubur Koja atau bubur India, rasanya beda ada rempah-rempahnya. Hangat, halus, dan cocok bagi lambung dimakan saat berbuka puasa,” kata Prasetya, salah satu warga yang siap menyantap bubur India. (lna) JoSS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*