
BARU-baru ini viral tempat wisata baru di Gunungkidul, yakni Jogja Sky Teras Kaca. Menjadi venomenal karena tempat wisata ini menawarkan sensasi Ngopi in The Sky di atas gondola dengan ketinggian 40 meter yang ditarik menggunakan mobile crane.
Ngopi di ketinggian sambil memandang Samudera Hindia yang ditawarkan oleh pengelola ini cukup diminati para wisatawan saat libur Natal dan Tahun Baru kemarin. Namun sejumlah pihak mempertanyaka standar keselamata wahana wisata tersebut, mengingat penggunaan mobile crane yang tidak sesuai peruntukaannya.
Terkait hal itu, Pemda DIY melakukan pengecekan mengenai perizinan serta standar keselamatan penggunaan mobile crane untuk gondola tersebut. Hasil pemeriksaan, Pemda DIY memutuskan untuk menutup wahana Ngopi in The Sky yang menggunakan mobile crane berlokasi di Panggang, Gunungkidul. Penutupan itu dilakukan sembari menunggu pengelola melengkapi izin keselamatan pengunjung.
Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengapresiasi adanya kreativitas dari pelaku usaha seperti dibukanya Ngopi in The Sky untuk mengembangkan daya tarik wisata. Akan tetapi setiap destinasi wisata yang dibuka harus dapat memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi pengunjungnya. Tujuannya agar Jogja tetap dipercaya sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman.
“Informasi yang kami terima penggunaan crane belum ada izin lalu penggunaan yang tidak sesuai spesifikasi barang, itu tentu juga harus ada penjamin keselamatan. Kalau belum ada kami minta diberhentikan dulu sampai sertifikasi keselamatan pengunjung itu bisa dijamin,” kata Aji Kamis (6/1/2022), dilansir dari harianjogja.com.
Ia menambahkan penanganan crane telah dilakukan Disnakertrans DIY sedangkan dari sisi destinasi langsung diawasi oleh Dinas Pariwisata DIY. Aji memastikan pemerintah tidak bermaksud untuk menutup kreativitas pelaku usaha untuk mengembangkan destinasi wisata, tetapi lebih mendorong agar menjamin keselamatan dan legalitas.
Baca juga: Asik, KRL Jogja-Solo Segera Menjangkau Wilayah Karanganyar
“Kebetulan disewa dari luar kota. Apakah guna operasional masih berlaku atau tidak. Tentu jadi kewajiban pemerintah untuk melakulan pembinaan, lewan Dispar DIY kabupaten, kewajiban mensosialisasikan mana boleh dan tidak,” ujarnya.
Kepala Disnakertrans DIY Aria Nugrahadi menyatakan telah menerima informasi penggunaan crane sebagai tempat ngopi pada Minggu (2/1/2022). Kemudian menerjunman tim spesialis alat angkut untuk melakukan pemeriksaan di lokasi pada Senin (3/1/2022). Hasilnya, alat angkat barang tersebut dipergunakan untuk mengangkut orang dan tidak sesuai ketentuan Permenaker No. 8 Tahun 2020.
“Kami telah menyampaikan surat nota pemeriksaan kepada pengelola Teras Kaca untuk penghentian operasionalisasi alat tersebut. Karena mobil crane dimodifikasi itu tidak sesuai peruntukannya,” ujarnya.
Gondola untuk ngopi di ketinggian 40 meter sambil menikmati pemandangan Samudra Hindia di Gunungkidul viral dan belakangan dipersoalkan karena belum ada sertifikat keamanan.
CEO Teras Kaca, Nur Nasution, mengatakan siap memenuhi permintaan dari Dinas Pariwisata Gunungkidul untuk mengurus sertifikasi keamanan wahana Jogja Sky di Pantai Nguluran di Kalurahan Girikarto, Panggang. Hal ini sebagai upaya memastikan wahana tidak berbahaya bagi pengunjung.
Menurut dia, sertifikasi ini akan diurus ke lembaga yang mengurusi masalah keselamatan dan kesehatan Kerja (K3). Sebelum mendapatkan izin, wahana ini belum dibuka untuk umum.
“Mudah-mudahan segera terbit dan wahana Jogja Sky bisa dioperasikan, karena kemarin [Minggu 2/1/2022] masih sebatas soft launching,” katanya, Kamis (6/1/2022).
Nur Nasution mengatakan ide membuat wahana ini sudah muncul sejak tiga tahun lalu. Meski belum ada sertifikasi keamanan, ia memastikan teknis keamanan sudah memenuhi standar.
Sebagai contoh, sambung dia, crane sudah menggunakan teknologi terkini. Sedangkan untuk talik penarik gondola dibuat dobel, dengan kekuatan masing-masing menarik beban maksimal empat ton. Ada empat titik untuk menarik gondola sehingga beban maksimal yang ditarik mencapai 32 ton.
“Jadi masih aman. Jika gondola diisi penuh pengunjung, bebannya hanya tiga ton. Ini masih jauh dari beban maksimal yang bisa diangkat,” kata Nur.
Antisipasi keamanan, sambung dia, juga dilakukan pada crane apabila terjadi kemacetan. Pengunjung tidak perlu khawatir dengan mengaktifkan kabel optik sebagai jalur darurat sehingga bisa digunakan untuk turun. “Kami juga menyediakan tabung oksigen untuk berjaga-jaga,” katanya. (lna)

Leave a Reply