
KULINER Indonesia tak akan lengkap jika tidak ada sambalnya. Semua menu mulai dari ujung timur hingga barat negeri ini dapat dipastikan terdapat aneka jenis sambal sebagai pelengkap sajian. Perbedaan jenis sambal pada setiap daerah menunjukkan bahwa sambal dapat dinilai sebagai penanda identitas suatu daerah.
Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, M.A., memaparkan, fungsi sambal sebagai penggugah selera makan telah ada sejak lampau.
Ahli arkeologi Jawa Kuna, Timbul Haryono dan H.I.R. Hinzler menemukan bukti bahwa sambal telah menjadi bagian dari menu makan masyarakat Jawa jauh sebelum cabai (Capsicum) dari Benua Amerika yang dibawa orang-orang Portugis pada abad ke-16 tumbuh di Nusantara.
“Sebelum cabai masuk ke Nusantara, nenek moyang orang Jawa menggunakan cabya jawa (Piper retrofractum), lada (Piper nigrum), dan jahe (Zingiber officinale) sebagai bahan membuat sambal. Lain hal dengan di Sumatra Utara yang memiliki andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC), tanaman khas yang sejak dulu hingga kini digunakan sebagai pecitarasa pedas,” ujar Fadly.
Fadly mengatakan, budidaya cabai dari benua Amerika yang terus berkembang diikuti pula dengan kian berkembangnya nafsu makan masyarakat Nusantara terhadap sambal. Kesaksian orang-orang Eropa menjadi bukti betapa gelojohnya masyarakat Nusantara dalam mengonsumsi sambal.
Fadly bercerita, pada 1621, seorang petualang Prancis, Augustin de Beaulieu, dijamu makan di Istana Aceh. Ia dibuat begitu terkesima dengan sajian hidangan yang melimpah ruah.
“Satu sajian yang tidak ia sentuh adalah sambal. Bagi orang Eropa seperti Beaulieu, sensasi pedas sambal terkesan begitu mengkhawatirkan bagi pencernaannya. Kesan itu tetap bertahan pada abad-abad kemudian,” tulisnya, dilansir dari unpad.ac.id.
Fadly menjelaskan, tokoh pergerakan nasional Tjipto Mangoenkoesoemo, mengungkapkan kenikmatan rasa tiada tara ketika ia makan dengan menu sambal terasi dan sambal goreng tempe yang melengkapi hidangan kegemarannya seperti gudeg, sayur asam, sayur lodeh, ikan asin, dan pecel.
Begitu juga dengan Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara. Tatkala dalam pengasingannya di Belanda (1913 – 1919), Soewardi kerap menjamu makan saudara-saudara sebangsanya. Sambal goreng hati adalah salah satu jenis olahan dengan bumbu sambal buatan istri Soewardi yang menghiasi menu jamuan bagi para tamunya.
Baca juga: 5 Makanan Indonesia Ini Dijual Mahal di Luar Negeri
Sekalipun tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Tjipto dan Soewardi telah banyak menempa dan ditempa pengetahuan Barat, bukan berarti selera makan mereka menjadi kebarat-baratan.
Sejarawan yang berfokus pada sejarah kuliner Indonesia ini mengungkapkan, selera mereka terhadap sambal kian menggugah rasa cintanya terhadap Tanah Air. Kesamaan selera terhadap sambal juga telah menjalin ikatan solidaritas sebagai sesama bangsa.
Hal itu tersiratkan pula dari kisah ketika Sukarno, Hatta dan para pimpinan negara ketika diasingkan oleh Belanda ke Bangka pada masa Agresi Militer tahun 1948 – 1949. Selama diasingkan, sehari-hari mereka mendapatkan makanan kaleng sebagai ransum.
Alih-alih rasa makanan kaleng tidak enak dimakan, mereka lantas lebih memilih menikmati sambal dari cabai yang dipetik di kebun. Supaya semua mendapatkan bagian, sambal dibagi sama rata sama rasa.
Kecintaan terhadap sambal sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari rumah dan kampung halaman sebagai akar dari selera makan bangsa Indonesia. Hal itu kiranya terwakili dari selera makan Sukarno yang begitu “rumahan”.
Sekalipun telah menjadi sosok “bapak bangsa” dan “pemimpin besar revolusi”, selera makan Sukarno tidak pernah bisa luput dari sambal.
Fadly menjelaskan, berdasarkan penuturan kisah Inggit Garnasih dan Fatmawati, Sukarno adalah seorang pecinta sambal. Dalam menyiapkan menu makan sehari-hari, kedua istri Sukarno ini kerap menyiapkan sambal sebagai pelengkap hidangan favorit sang suami seperti sayur lodeh, sayur asem, dan tempe.
Ada senyawa capsaicin dari setiap cabai dalam sambal yang dinikmati para tokoh bangsa pada masa lalu. Bukan hanya sekadar memunculkan efek pedas, capsaicin juga menghasilkan suatu zat yang dinamakan endorphin.
Zat ini yang oleh para alkemis diyakini dapat membuat seseorang merasa senang serta mampu meningkatkan kekebalan tubuh.
Kesuka-citaan dan keberanian memperjuangkan kemerdekaan bangsa yang tecermin dari kisah para tokoh bangsa pencinta sambal, mungkin dapat dialegorikan bahwa efek endorphin telah merasuk dalam jiwa mereka.
“Dengan sensasi pedasnya, sambal telah turut serta dalam menggugah semangat kebangsaan,” tutup Fadly. (lna)

Leave a Reply