
JoSS, SRAGEN – Bukur atau kerang sungai akan dijadikan aneka sajian khas di Situs Sangiran, Sragen. Selain untuk menjawab ketiadaan makanan khas Sangiran, menjadikan bukur sebagai kuliner khas dapat mendongkrak ekonomi masyarakat setempat.
Hal itu dibahas dalam pelatihan peningkatan kapasitas usaha masyarakat yang digelar Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui Badan Otorita Borobudur (BOB) beberapa waktu lalu.
Alih-alih menyajikan kuliner khas, penjaja warung makan di sekitar Museum Purbakala Sangiran menyuguhi pengunjung mi instan atau mi gelasan untuk mengisi perut.
“Sebetulnya masakan berbahan dasar bukur ini sudah lama. Biasanya bukur ini dimasak jadi asem-asem, jadi botok, hingga digoreng kering dengan tepung ala kentucky. Makanan berbahan dasar bukur ini akan kami kembangkan menjadi ikon kuliner khas Sangiran,” papar Kepala Desa Krikilan, Widodo, seperti dilansir dari Solopos.com.
Baca juga: Rumah Atsiri Plumbon
Di Desa Krililan ada sejumlah warga yang bekerja mencari bukur di dasar Sungai Cemoro. Dari segi rasa, bukur hampir sama dengan kerang laut namun berukuran lebih kecil.
Salah satu masalah yang dihadapi untuk mengembangkan bukur sebagai ikon kuliner khas Sangiran Sragen adalah stoknya terbatas sepanjang tahun.
“Bukur ini musiman. Kebetulan saat musim kemarau ini ada banyak bukur. Tapi, nanti kami mencoba membudidayakan bukur supaya bisa dipanen sewaktu-waktu,” ucap Widodo.
Selama ini belum ada ikon kuliner di Situs Sangiran. Kebanyakan wisatawan masih bingung untuk berburu kuliner di Sangiran Sragen karena dinilai tidak ada yang istimewa.
Selain butuh ikon kuliner, para pelaku pariwisata juga butuh keterampilan khusus dalam membuat cendera mata. Salah satu cendera mata yang khas dari Situs Sangiran adalah aneka kerajinan tangan yang terbuat dari bahan batu alam.
Kendati demikian, dalam beberapa tahun terakhir terjadi penurunan minat warga sekitar untuk mengolah kerajinan berbahan dasar batu alam ini. (lna)

Leave a Reply