Wisata Bali Dibuka Bertahap: Agustus Untuk Wisman Nusantara, Turis Asing September

Petugas bandara berbaris menyambut penumpang di bandara Bali (31/7) | Foto: AP/dailymail.co.uk/expressdigest.com

JoSS, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali mulai membuka aktifitas pariwisata secara bertahap di masa pandemi Covid-19. Sejak Jumat (31/7/2020) Pulau Dewata sudah bisa dikunjungi wisatawan nusantara (wisnus). Sementara untuk turis asing rencananya bakal dibuka pada September mendatang.

Sebelumnya, Bali juga telah membuka pariwisata, khusus untuk wisatawan lokal saja pada 9 Juli 2020. Semua orang atau wisatawan yang hendak pergi ke Bali wajib mengikuti protokol tatanan kehidupan era Bali baru yang telah tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 15243 Tahun 2020.

Melalui rilis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan, kesiapan Bali untuk membuka sektor pariwisata dilakukan secara bertahap.

“Oleh karena itu, kami memberanikan diri menjalankan ini selektif secara bertahap, ini harapan kita, jangan sampai kita buka besok muncul kasus baru yang mencoreng citra pariwisata Bali. Butuh dukungan semua pemangku dan pelaku pariwisata,” kata Wayan, dalam keterangan tertulisnya.

Sementara itu, Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung Bali, I Gede Ricky Sukarta, mengatakan belum semua sektor ini siap untuk dibuka kembali.

Gede Sukarta mengambil gambaran dari Kabupaten Badung di mana wilayah ini ia sebut sebagai ‘barometer’ karena memiliki industri wisata perhotelan, villa, homestay, dan restoran terbesar di Bali sekitar 3.425 unit.

“Dari sekian itu, 10% pun belum kita verifikasi. Karena ketika dia siap untuk diverifikasi, mereka harus melakukan self-assessment,” kata Gede Sukarta, seperti dikutip dari BBC News Indonesia.

Tidak ada kabupaten atau kota di Bali yang menerapkan PSBB. Kebijakan yang diambil pemerintah lokal adalah pembatasan kegiatan masyarakat yang diklaim tak ganggu perekonomian.

Gede Sukarta yang ditunjuk sebagai tim verifikasi oleh pemerintah sempat mengatakan, setelah sektor pariwisata ini diverifikasi kemudian mendapat sertifikat sebagai tiket untuk bisa dibuka kembali.

Baca juga: Objek Wisata Telaga Madirda Karanganyar Dibuka Kembali

Tim verifikasi akan memastikan tempat-tempat penginapan itu telah mendukung protokol Covid-19, termasuk peralatan dan orang-orang yang bekerja.

“Setiap dua sampai empat jam sekali, semua ruang yang bersentuhan dengan tamu, karyawan itu harus disinfektan dengan kandungan alkohol 70%,” kata Gede Sukarta menjelaskan salah satu protokol yang harus dipenuhi.

Selain itu, kata Gede Sukarta, pihak hotel juga wajib menyediakan masker cadangan, tempat cuci tangan, bekerja sama dengan klinik, menyediakan ruang khusus isolasi, hingga pengecekan suhu tubuh secara berkala.

Protokol ini membutuhkan biaya, termasuk membayar gaji pegawai, promosi dan segala biaya operasionalnya, seperti membuka usaha baru. “Nah ini perlu bantuan, BLT (bantuan langsung tunai) ini dari pemerintah,” katanya.

Pemprov Bali mengaku kehilangan pendapatan di sektor pariwisata gara-gara pandemi virus corona, per bulan Rp9,7 triliun. Sehingga selama Maret – Juli mencapai Rp48,5 triliun. “Ya benar,” kata Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Astawa mengamini potensi kehilangan devisa dari sektor tersebut.

Putu mengatakan, pihaknya tak mengalokasikan anggaran untuk insentif bagi pelaku usaha wisata di Bali, bahkan untuk biaya sertifikasi industri penginapan. “Kita nggak punya anggaran untuk sertifikasi ini. Betul-betul gotong royong,” ungkapnya.

Sementara itu, I Ketut Ardana, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) mengatakan kerugian sektor pariwisata yang ditaksir Pemprov Bali sebagai ‘masuk akal’.

Kontribusi devisa pariwisata Bali pada 2019 terhadap perekonomian nasional sebesar Rp75 triliun atau 28,9%. “Jadi make sense (kehilangan pendapatan) Rp9,7 triliun,” kata Ketut.

Khusus sektor biro perjalanan wisata di Bali, Ketut memperkirakan potensi kehilangan pendapatan Rp5 triliun hingga akhir tahun. “Karena memang tidak ada kegiatan aktivitas sama sekali. Betul-betul mati, katakanlah begitu,” katanya.

Namun, Ketut optimistis pembukaan kembali akses wisata di Bali menggerakan kembali roda perekonomian masyarakat. Ia memperkirakan pertengahan tahun depan, dengan syarat vaksin sudah ditemukan atau pemerintah dapat meyakinkan calon wisatawan bahwa Bali sudah siap dengan protokol kesehatan. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*