JoSS, JOGJA – Prosesi Hajad Dalem Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta kali ini dilakukan dengan cara yang berbeda, guna mencegah penyebaran virus corona yang masih mewabah di negeri ini. Tak ada arak-arakan gunungan, namun uborampe penolak balak dibagikan kepada abdi dalem keraton.
Begitu juga dengan prosesi pengiring lainnya yang biasanya diadalan arak-arakan pada hari pertama Lebaran, seperti tradisi Numplak Wajik yang sedianya digelar tiga hari sebelum Grebeg Syawal, juga Ngabekten, dan Ringgitan Bedhol Songsong, tidak diselenggarakan.
Dilansir dari Tempo.co, suasana Keraton Yogyakarta hari ini cukup lengang. Sejumlah abdi dalem tetap beraktivitas dengan baju peranakan lengkap dan bermasker.
“Hari ini ada pemberian uborampe (hidangan/makanan sesaji) bagian dari gunungan di dalam keraton, yang dihadiri para putri dalem dan mantu-mantu dalem,” ujar seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryo Satriyanto kepada Tempo di Kompleks Keraton.
Suryo menuturkan, tak semua abdi dalem hadir dalam pemberian uborampe berupa rengginang itu. Hanya perwakilan tepas atau bagian urusan Keraton Yogyakarta demi mencegah kerumunan seperti instruksi Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Uborampe dari gunungan biasanya diarak prajurit Keraton Yogyakarta saat tradisi Garebeg Sawal ke berbagai penjuru, seperti Masjid Gedhe Kauman, Puro Pakualaman, dan Kompleks Kepatihan. Masyarakat antusias memperebutkannya untuk dibawa pulang.
Dalam kepercayaan masyarakat lokal, uborampe dari keraton bisa mendatangkan berkah, keselamatan, kesehatan juga mengusir bala serta wabah atau pageblug, bagi siapa yang menyimpan atau menanamnya di area rumah. “Kali ini uborampe tidak diperebutkan, namun diberikan kepada setiap abdi dalem,” ujarnya.
Baca juga: The New Normal Pariwisata, Candi Borobudur Dibuka Kembali 8 Juni
Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono, mengatakan meski arak-arakan prosesi Garebeg Sawal Lebaran ini ditiadakan, Keraton Yogyakarta tetap membagikan uborampe gunungan. Pembagian uborampe juga memperhatikan protokol kesehatan.
“Prosesi arak-arakan gunungan beserta prajurit yang biasa digelar memang tidak ada. Namun kami tetap membagikan uborampe gunungan berupa rengginang,” ujar Condrokirono.
Putri kedua Raja Keraton Yogyakarta itu mengatakan pembagian uborampe kepada para abdi dalem ini merupakan usaha Keraton Yogyakarta dalam melestarikan tradisi di tengah pandemi. Melalui usaha tersebut, diharapkan esensi dari Garebeg itu sendiri tidak hilang.
Uborampe gunungan dirangkai dan diinapkan selama satu malam di Bangsal Srimanganti sejak Sabtu, 23 Mei 2020.
Prosesi pembagian dan pemberangkatan parede digelar keesokan harinya atau pada hari pertama Idul Fitri, Minggu, 24 Mei 2020 mulai pukul 08.30 WIB di Bangsal Srimanganti yang dipimpin putri pertama Sultan HB X, GKR Mangkubumi. Seusai didoakan Abdi Dalem Kaji, parede selanjutnya akan didistribusikan kepada abdi dalem Keraton Yogyakarta, Kepatihan, dan Puro Pakualaman.
Total ada 2.700 tangkai rengginang yang disiapkan. Uborampe tersebut berjumlah sama dengan banyaknya rengginang yang disiapkan dalam Gunungan Estri dan Gunungan Dharat pada saat Upacara Garebeg sebagai mana mestinya. Distribusi rengginang ke seluruh abdi dalem diberikan melalui penghageng setiap Tepas/Kawedanan supaya tidak menimbulkan kerumunan.
Baik penghageng dan abdi dalem yang menerima uborampe gunungan wajib menggunakan masker dan mematuhi protokol kesehatan dengan mencuci tangan dan menjaga jarak. Condrokirono mengatakan tradisi Idul Fitri 2020 ini meniadakan sejumlah prosesi sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran virus corona. (lna)

Leave a Reply