

Jika menyusuri beberapa gang di Perumahan Arya Mukti Pedurungan Semarang Timur, orang tidak akan pernah tahu jika di situ berada sebuah perkampungan yang dihuni para seniman tradisional wayang orang Ngesti Pandawa.
Perumahan itu terletak di Kelurahan Pedurungan Lor, Kecamatan Semarang Timur yang merupakan bantuan Pemkot Semarang sebagai pengganti pemukiman (asrama) terdahulu di Jalan Anggrek kawasan Simpanglima Semarang. Pada tahun 90-an asrama Ngesti itu digusur untuk dibangun pusat bisnis dan perhotelan.
Pemukiman di Pedurungan itu merupakan salah satu dari beberapa lokasi pengganti yang kini juga (sebagian) dihuni oleh sebagian anak wayang yang lain, yaitu di Banyumanik dan di Plamongansari. Disebut sebagian, karena beberapa diantaranya dijual tanpa sepengetahuan manajemen Ngesti.
Di Perumahan Arya Mukti Pedurungan itu terdapat dua gang yang ditinggali oleh seniman para Ngesti, seperti keluarga dari dinasti Sastro Soedirdjo (salah satu pendiri). Kemudian banyak lagi para pemain Ngesti yang berada di deretan rumah-rumah di sekitarnya. Salah satunya sebuah rumah berukuran sederhana dan kecil saja. Itu rumah Kasinem yang lebih populer dengan nama panggung Bu Talok (pada tahun 2018 berusia 73).
Untuk menemui Bu Talok Kasinem tidaklah sulit. Seorang wanita lanjut usia dengan rambut penuh uban, berkulit langsat dengan gurat-gurat ketuaan tapi masih menyisakan kecantikan. Itu adalah kecantikan masa lalu saat ia menjadi sri panggung atau primadona Ngesti Pandawa generasi pertama.
Kini Talok Kasinem hanya bisa duduk-duduk di teras rumahnya yang sempit. Tongkat penyangga tubuh selalu menyertainya, karena wanita itu – sejak sakit-sakitan – sudah tidak bisa berjalan atau berdiri dengan tegak.
Wanita yang namanya sering disebut-sebut para pekerja seni itu memang bukan wanita biasa di masa lalunya. Jika sudah berada di atas panggung dengan busana tokoh bambangan atau tokoh halusan, penonton akan terkesima karena keluwesan. Bu Talok saat sungguh memikat penonton dengan kecantikan alami, itu sebabnya ia menjadi primadona panggung tobong.
Kenangan indah tak pernah hilang dalam ingatan seorang wanita seniman wayang yang pernah masuk salah satu deret sri panggung Ngesti Pandawa di era 60 ,70, 80 an, sebuah momentum yang tak bisa lepas dari ingatan para pemain Ngesti Pandawa disepanjang hayat yakni saat tampil di Istana Merdeka Jakarta dan Istana Bogor di depan Bung Karno dan tamu-tamu negara.
Kini Bu Talok tinggal bersama anak dan salah satu cucunya di perumahan Pedurungan Semarang. Ia mengaku telah lama pensiun dari dunia seni peran, dan memilih tinggal bersama anak dan cucu tanpa bisa beraktivitas dengan belenggu ketuaan. Kini dalam kesehariannya ia harus dijagai Rizal (21) salah satu cucu lelakinya sebagai satu-satunya cucu yang menuruni bakat seni neneknya.
Keprimadonaan Bu Talok berada baris kedua setelah Suwarni (alm). Meski mereka juga sama-sama sering berperan sebagai tokoh bambangan seperti Arjuna atau Abimanyu yang juga selalu menjadi lawan main tokoh Tjiptodijhardjo (alm) sebagai pemeran raksasa Buta Cakil untuk tarian ekstra Bambangan Cakil.
Ditemui di rumahnya, gurat-gurat garis kecantikan di wajah tua Ibu Talok masih terlihat jelas. Kulitnya yang putih memperlihatkan semasa mudanya wanita ini rajin merawat tubuhnya. Luluran adalah sebuah ritual yang tak bisa ditinggalkan. “Ya begini, saya sekarang sedang tidak sehat, dan sudah lama berhenti main wayang,” kata Ibu Talok bergetar akun tetap lembut

Leave a Reply