

Berbicara wabah Covid-19, persepsi orang banyak akan tertuju pada RRT (Republik Rakyat Tiongkok) atau China, khususnya Kota Wuhan tempat awal munculnya pandemi ini. Persepsi yang terbangun membuat banyak pihak menangkap dan meresponnya dengan sikap buruk, seperti perlakuan yang rasis terhadap etnis China yang ada di Amerika dan Eropa. Banyak unggahan yang menyakitkan tentang hal itu, sampai ada yang menyebutnya wabah Covid-19 sebagai kutukan.
Lalu, bagaimana China melakukan respons terhadap wabah yang melanda negerinya?
China sempat menjadi negara dengan infeksi tertinggi di dunia yaitu 81.439 kasus dengan jumlah korban meninggal 3.300 pada posisi 29 Maret 2020 sebagaimana dicatat dalam situs www.worldometers.info yang terus mengupdate data secara regular. Respon pemerintah negeri tirai bambu ini sangat tegas. Keputusan lockdown alias mengunci area diambil pada pertengahan Januari 2020 dengan mengisolasi Kota Wuhan dan 15 kota lainnya di Provinsi Hubei. Selain lockdown di Hubei, China juga meminta seluruh warganya untuk sementara tinggal di rumah kecuali untuk kepentingan membeli makanan dan pengobatan.
Bukan itu saja, perjalan kereta api dan angkutan umum di beberapa ruas dihentikan untuk sementara. Bahkan libur Imlek diperpanjang agar masa karantina selama 14 hari tidak terganggu. Tenaga kerja yang baru pulang dari luar negeri dikarantina selama 14 hari, dan social distancing diberlakjukan secara ketat. Pembatasan mobilitas dalam skala nasional yang sangat ketat, bisa dilaksanakan dengan baik. Tidak banyak muncul perlawanan dan kritik dari warganya.
Kenapa itu dilakukan? Karena menurut pertimbangan Pemerintah China jika tidak dilakukan lockdown maka penularan virus corona bisa mengenai hampir separo warganya yang jumlahnya satu milyar jiwa lebih.
Pilihan kebijakan China ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Dari catatan International Monetary Fund, beberapa kebijakan yang diambil Pemerintah China sampai 23 maret 2020 memang luar biasa. Persetujuan alokasi anggaran untuk mengatasi corona sebesar RMB 1.3 triliun atau setara dengan tiga ribu triliun rupiah (Rp 3.000 triliun), adalah pilihan berat. Itu artinya sebanyak 1.2 persen dari Gross Domestic Product China dialokasikan untuk menghadapi ancaman Covid-19. Anggaran tersebut dipakai antara lain untuk pencegahan dan mengontrol wabah, untuk memproduksi alat kesehatan, untuk membangun rumah sakit baru yang digambarkan siap dalam tiga hari, penambahan alokasi anggaran untuk asuransi penggaguran, kelonggaran pajak dan menunda kontribusi untuk keamanan sosial.
Dampak langsung dari kebijakan pilihan kebijakan itu adalah meningkatnya investasi infrastruktur kesehatan, sistem darurat kesehatan publik juga membaik sehingga membuat kondisi lebih stabil. Di wilayah yang dinyatakan lockdown, pemerintah memasok kebutuhan pangan warganya melalui mekanisme yang ketat. Pemakaian sistem daring yang sudah dipakai sebagaian besar warga China, membuat mekanisme pengawasan dan pelayanan publik menjadi lebih mudah dilakukan.
Menghadapi pandemi Covid-19, Bank Sentral China (People’s Bank of China) juga tidak tinggal diam. Lembaga ini membuat kebijakan moneter yang mendukung dan berfungsi untuk menjaga stabilitas keuangan, seperti (i) suntikan likuiditas ke sistem perbankan sebesar RMB 3 triliun atau sekitar enam triliun rupiah pada pertengahan Februari 2020; (ii) perluasan fasilitas peminjaman ulang dan pemotongan sebesar RMB 800 miliar atau setara enam belas triliun rupiah untuk mendukung pabrik pemasok alat kesehatan. Rinciannya kebutuhan pokok (RMB 300 miliar), UMKM (RMB 300 miliar) dan sektor pertanian (RMB 100 miliar) dengan bunga rendah.
Bukan itu saja. Pemerintah China juga memberikan bantuan terukur kepada rumah tangga yang terkena dampak pandemi Covid-19, membantu perusahaan yang terdampak virus corona, juga membantu pemerintah daerah yang menghadapi kesulitan pembayaran karena wabah ini. Kebijakan tersebut diikuti langkah-langkah seperti (i) pelonggaran pembayaran pinjaman dan langkah-langkah dukungan kredit lainnya untuk UKM dan rumah tangga yang memenuhi syarat; (ii)memberikan toleransi yang lebih tinggi kepada perbankan atas posisi NPL (non-performing loan) atau kredit yang bermasalah –khususnya untuk pinjaman oleh sektor-sektor yang terkena epidemi dan UKM (Usaha Kecil Menengah); (iii) memberikan keluwesan dalam pengelolaan aset.
Kita patut belajar dari apa yang dilakukan negara lain yang juga terkena wabah virus corona. Setelah China, kita perlu tahu apa yang dilakukan Italia, Spanyol, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Iran, Singapura dan Malaysia. Karena dengan tahu lebih banyak, pilihan atas sikap kita sebagai warga juga akan membantu menghadapi ancaman wabah ini. (awo-bersambung)

Leave a Reply