

Pada 1994 kompleks GRIS dipindahtangankan oleh pemerintah Kota Madia Semarang yang saat itu wali kota dijabat Sutrisno Suharto, menyusul adanya sengketa lahan. Sudah tentu kejadian ini membuat Ngesti Pandawa tidak memiliki gedung pertunjukan lagi, dan harus pindah ke kompleks THR Tegalwareng (sekarang Taman Budaya Raden Saleh) dan menempati sebuah gedung pertemuan selama dua tahun.
Situasi ini oleh Cicuk Sastro Soedirdjo (alm) anak ke empat Sastro Soedirdjo digambarkan sebagai keadaan dimana Ngesti Pandawa telah ”dipinggirkan’’ atau dipindah paksa setelah terjadi persoalan lahan, maka anggota perkumpulan ini pun tercerai-berai.
Sebelumnya anggota yang selama ini tinggal dengan damai di asrama di Jalan Anggrek (sekarang akan Gajahmada) harus boyongan ke berbagai tempat. Sebagian tinggal di kawasan Pedurungan, sebagian lagi di Rumah Susun Plamongansari, sementara lainnya tinggal di kawasan Banyumanik,
Saat itu, kepemilikan rumah tinggal berlaku sistem pakai karena angsurannya dibiayai oleh pihak pemerintah, sampai akhirnya hampir semua anggotanya memiliki sertifikat rumah. Namun dalam perkembangannya, banyak rumah yang dijual belikan secara pribadi.
“Digusur” dari GRIS, Ngesti Pandawa disediakan tempat di THR Tegalwareng. Mbah Sukir, seorang pensiunan pegawai Dinas Taman Hiburan Rakyat (THR) Tegalwareng (semacam kalau sekarang adalah Dinas Budaya dan Pariwisata) bercerita bahwa penduduk setempat sering menyebut gedung yang ditempati Ngesti Pandawa pertama kali adalah “gedhong ndhuwur”. Disebut demikian karena bangunan gedung pertemuan ini berada di daerah yang kontur tanahnya lebih tinggi. Gedung itu di masa sekarang disewakan untuk perhelatan pernikahan.
Tidak lama di THR Tegalwareng pada tahun 1996 Ngesti Pandawa pindah ke Istana Majapahit menempati sebuah kompleks rekreasi di Semarang Timur. Namun pada 2001 kelompok ini dipindah dan disediakan tempat pergelaran oleh pemerintah kota Semarang untuk menggunakan kembali sebuah gedung pertunjukan di TBRS, bukan kembali ke gedhong ndhuwur tapi menempati Gedung Ki Narto Sabdo sampai sekarang, dengan sistem pinjam pakai.
Sejak saat itu pula WO ini hampir tidak ada pesaing, kecuali WO Sriwedari di Sala, Barata di Jakarta dan Sri Wandowo Surabaya. Tidak ada dalam kamus Ngesti Pandawa untuk bersaing dengan kelompok wayang yang lain, karena fakta yang ada malah diantara para kelompok itu di era sekarang saling bersinergi umpamanya dengan mengadakan pementasan bersama.
Perpindahannya ke berbagai tempat semakin menandai bahwa sebuah perkumpulan seni tidak bisa tidak harus bergantung dengan kondisi pemerintahan setempat, terlebih lagi untuk Ngesti Pandawa oleh pejabat sebelumnya Hadi Subeno telah dianggap sebagai anak sendiri terlebih lagi saat itu kelompok ini tengah merangkak yang akhirnya mencapai masa kejayaan.
Pada tahun 1960 sampai awal tahun 1970, Ngesti Pandawa mengalami masa puncak kejayaan dan menjadi ikon Kota Semarang di bawah kepemimpinan Sastro Sabdo dan Narto Sabdo. Ngesti Pandawa menjadi kiblat bagi perkumpulan wayang orang yang ada di zamannya. Teknik dekorasi, iringan, kostum, koreografi, dan trik panggung menjadi acuan bagi perkumpulan wayang orang lainnya. Kelompok ini pun memiliki sederet bintang panggung yang sanggup menarik calon pengunjung untuk tiap hari menonton wayang orang.
Daya tarik lain Ngesti Pandawa memang bukan karena faktor bintang panggung saja, tapi hal-hal teknikal pemanggungan juga cukup menarik. Beberapa teknik pengadeganan dilakukan pada setiap pentas. Misalnya teknik pada adegan tokoh yang “menghilang” dengan menggunakan teknik malihan (berubah) “Tansiku”. Atau teknik terbang melayang, dimana pemeran duduk di kursi roda dan kursi ditarik ke kanan dan ke kiri dengan latar kayangan (angkasa). Juga teknik setanan, yaitu bagaimana adegan hantu seperti betul-betul hidup. Namun beberapa properti pendukung trick itu, saat ini tidak bisa digunakan lagi, dan disimpan di rumah beberapa pemainnya.
Teknik pementasan tradisional saat itu diciptakan secara manual tapi memang betul-betul bisa membuat efek dramatik. Namun sampai di era teknologi mutakhir seperti sekarang ini, Ngesti (juga mungkin grup kesenian tradisional yang lain) belum juga mengubah gaya pemanggungan ke sistem yang lebih modern lagi.

Leave a Reply