Bahaya Ribuan Jarum Suntik Bekas Dibuang Sembarangan di Solo

jarum suntik
Limbah medis berupa jarum suntik | Foto: tribunsolo

JoSS, SOLO – Limbah medis berupa jarum suntik ditemukan berserakan di sekitar bekas TPS Jurug, Jebres, Solo, Selasa (5/3). Penemuan limbah medis tersebut ditemukan kedua kalinya di lokasi yang berdekatan selama dua bulan terakhir.

Petugas Taman Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo Suwanto mengatakan dia menemukan limbah medis sudah dua kali selama dua bulan terakhir. Menurutnya penemuan yang pertama sangat parah karena jarum suntik tersebar di berbagai tempat.

“Saya sudah temukan dua kali. Dua bulan ini. Yang pertama seperti sengaja disebar. Ini sisa-sisanya masih ada. Saya sudah laporan mandor soal penemuan ini. Sedikit-sedikit tapi ini sepanjang jalan ada sisa-sisanya,” ujarnya sambil menunjukkan sisa-sisa jarum.

Sementara itu Kasi Pengelolaan B3 dan Limbah B3 DLH Solo Heri Widianto mengatakan baru tahu soal limbah medis itu Selasa lagi dan langsung menuju lokasi untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

“Saya malah baru tahu informasi ini dari media. Rencana saya akan membuat laporan ke polisi karena sudah masuk ranah kriminalitas,” kata dia.

Sebelumnya limbah medis berupa jarum suntik juga ditemukan berserakan di tepi Jl. Kapten Mulyadi, Sudiroprajan, Jebres, Solo, pada 13 Februari. Kasus itu belum terpecahkan hingga saat ini.

Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo langsung mengirimkan ahli medis untuk meneliti jarum suntik bekas yang ditemukan di bekas lokasi PKL dekat TPS Jurug, Jebres Selasa (5/3).

Baca juga: Rawa Pening Masuk Daftar Danau Kritis Pendangkalan

Menurut dokter yang berada di lokasi temuan, limbah medis yang dibuang itu bekas digunakan manusia. Dokter umum Puskesmas Ngoresan dr. Krisnandar Fredianto yang meneliti jarum suntik itu menemukan ada tiga jenis jarum di lokasi penemuan limbah medis tersebut.

“Setidaknya ada tiga jenis jarum yang funsinya berbeda-beda. Ada jarum suntik yang digunakan untuk infus, bisa terlihat dengan selang yang masih terpasang. Lalu ada suntikan yang digunakan untuk penderita gagal ginjal. Lalu yang paling banyak adalah jarum untuk obat,” jelasnya, seperti dikutip dari Solopos.

Menurutnya, dari ketiga jenis jarum yang diteliti sudah jelas jarum tersebut bekas digunakan manusia. Hal tersebut terindikasi dari adanya alat yang digunakan untuk mengobati pasien pengidap gagal ginjal.

Menurut Krisnandar, limbah medis yang dibuang sembarangan sangat berbahaya karena sudah tercampur dengan cairan tubuh pasien pengidap penyakit. Penyakit yang menginfeksi bisa saja HIV/AIDS atau hepatitis. Karenanya perlu penanganan yang hati-hati terhadap limbah medis.

“Berbahaya, karena sudah dipakai. Sudah kontak dengan cairan tubuh. Misal terinfeksi HIV atau hepatitis tentu saja berbahaya. Langsung akan kami tangani bersama dengan RSJD Solo,” bebernya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*