Field Trip Geopark Dieng: Pelajar SMP Banjarnegara Jelajahi Wisata Edukasi

Puluhan pelajar SMP di Banjarnegara ikuti field trip Geopark Nasional Dieng. Kenali potensi geologi, situs budaya, dan warisan alam lewat edukasi wisata.
BANJARNEGARA, JOSS.CO.ID – Sebanyak 30 pelajar SMP dari berbagai sekolah di Kabupaten Banjarnegara mengikuti kegiatan Field Trip Geopark Nasional Dieng pada Sabtu (24/10). Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Banjarnegara menginisiasi program edukatif ini. Melalui acara ini, Bapperida mengenalkan potensi geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya Dieng kepada generasi muda sejak dini.
Para peserta menjelajahi sejumlah situs kebumian unggulan di kawasan Dieng. Mereka mengunjungi Kawah Sikidang, Kawah Candradimuka, Telaga Dringo, dan Kompleks Candi Arjuna. Selain menikmati keindahan alam dan situs sejarah, siswa juga mempelajari flora serta fauna khas setempat. Mereka mengenal tanaman carica, purwaceng, hingga domba batur.
Pemandu geowisata menyampaikan penjelasan langsung sepanjang perjalanan. Pemandu menerangkan proses pembentukan bentang alam vulkanik, dinamika panas bumi (geothermal), dan keunikan ekosistem lokal. Di setiap lokasi kunjungan, para peserta merekam video kegiatan. Mereka akan mengunggah konten tersebut ke media sosial sekolah masing-masing.

Fokus Edukasi dan Literasi Digital

Kepala Bidang Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Banjarnegara,Resiati Widiastuti, menyampaikan penjelasannya. Ia menyebut kegiatan ini sebagai wujud pilar edukasi dalam pengembangan kawasan geopark.
”Sebagai Badan Pengelola, tentu kami berkewajiban untuk melaksanakan pengembangan terkait dengan Geopark. Ada tiga pilar terkait dengan pengembangan Geopark dan kita mengambil salah satu pilarnya, yakni pilar edukasi. Sehingga memang hari ini kita mengadakan field trip atau perjalanan mengunjungi situs-situs yang ada di Geopark, baik dari biosite, cultural site, maupun diversity site,” terangnya.
Resiati memilih siswa SMP karena mereka menguasai literasi digital dengan baik. Langkah ini bertujuan memaksimalkan penyebaran informasi positif tentang kawasan geopark.
”Harapannya, siswa-siswi bisa ikut menyosialisasikan apa yang mereka dapatkan dari kegiatan ini, dan cara yang paling efektif adalah lewat konten sosial media. Semoga ke depan semua sekolah bisa ikut dalam kegiatan seperti ini,” tambahnya.

Potensi dan Konservasi Geopark Dieng

General Manager Geopark Nasional Dieng, Sri Utami, memaparkan profil kawasan konservasi ini. Geopark Dieng mencakup dua wilayah kabupaten di Jawa Tengah dengan total 23 geosite. Wilayah Kabupaten Wonosobo memiliki 10 geosite, sedangkan Kabupaten Banjarnegara memuat 13 geosite. Pengelola mengembangkan sebagian situs sebagai objek wisata, sementara situs lain berfokus untuk edukasi dan penelitian.
“Sejak Dieng ditetapkan jadi Geopark Nasional pada Maret 2025, fokus Badan Pengelola pada tahun ini adalah bagaimana Geopark ini terinformasikan ke publik, salah satunya melalui program Geopark Goes to School dan kegiatan field trip seperti hari ini. Selain itu, kami juga aktif dalam jejaring Geopark Indonesia dan masuk dalam kepengurusan Geopark National Team,” jelasnya.
Sri Utami menegaskan pentingnya menjaga pelestarian warisan kebumian dan budaya ini. Langkah konservasi tersebut akan memberi manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang. Selain itu, program ini menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
”Apa yang ada itu tidak hanya kita nikmati hari ini, tetapi bagaimana warisan ini bisa dinikmati sampai dengan anak cucu kita. Melalui langkah inilah harapannya ada upaya konservasi dan edukasi, sehingga di situ bisa kita gunakan sebagai penelitian dari sisi geologi maupun keilmuan lainnya dan pada saatnya berdampak positif terhadap perkembangan ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Para peserta menyampaikan kesan positif terhadap acara ini. Salah satu perwakilan siswa dari SMP Negeri 1 Karangkobar, Brilliant Fatimatuzzahra, mengaku senang bisa belajar langsung di lapangan.
”Belajar langsung di lapangan terasa jauh lebih seru dan menyenangkan. Kami jadi tahu bagaimana kawah terbentuk dan mengapa lingkungan Dieng harus terus kita jaga bersama,” ungkapnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*