
SEBUAH survei terhadap 2.000 orang dewasa di Inggris yang dilaporkan oleh Metro.co.uk mengungkapkan bahwa batas waktu toleransi keterlambatan adalah 29 menit. Jika seseorang datang terlambat lebih dari batas waktu tersebut, perilakunya sudah dianggap tidak sopan.
Keterlambatan selama 15 menit biasanya masih bisa dimaklumi. Namun, jika keterlambatan mencapai satu jam, sekitar seperempat responden menganggap hal itu sebagai batas yang tidak bisa ditoleransi.
Menariknya, lebih dari seperempat responden mengaku sering mengirim pesan “aku sudah dekat, lima menit lagi sampai,” padahal kenyataannya tidak demikian. Karena sudah terbiasa dengan kebohongan ini, hampir sepertiga responden akhirnya beradaptasi dengan cara sengaja memberi tahu waktu kumpul yang lebih awal kepada teman-teman mereka yang hobi telat.
Para pakar etiket menargetkan standar toleransi yang jauh lebih ketat. Rupert Wesson dari Debrett’s Etiquette Training menyatakan bahwa dalam dunia profesional, jika Anda merasa datang empat menit lebih awal, sebenarnya Anda sudah terlambat satu menit. Acara santai atau sosial memang memberikan ruang fleksibilitas lebih, terutama jika Anda memberi kabar terlebih dahulu. Namun, ia menyentil keras orang-orang yang belum berangkat dari rumah pada jam janji yang sudah ditentukan sebagai bentuk tindakan yang merugikan diri sendiri, tidak fungsional, dan sangat tidak sopan.
Dari sudut pandang psikologi, ada penjelasan di balik kebiasaan sering datang terlambat ini. Diana DeLonzor, penulis buku Never Be Late Again, memimpin penelitian di San Francisco State University yang menemukan bahwa sekitar 17% orang tergolong sering keterlambatan secara kronis. Ia menjelaskan bahwa para pembuat janji yang hobi telat ini cenderung meremehkan durasi waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas dasar sebesar 25 hingga 30 persen.
DeLonzor menyebut kondisi ini sebagai “pemikiran ajaib” (magical thinking)—sebuah istilah halus untuk menggambarkan orang yang sangat yakin bahwa mereka bisa mandi, berpakaian, mencari parkir, dan sampai di lokasi dalam waktu 20 menit saja.
“Menyuruh orang yang sering telat untuk datang tepat waktu itu mirip seperti menyuruh orang yang sedang diet untuk langsung berhenti makan banyak,” tulis DeLonzor dalam bukunya. Ia mempelajari hal ini dari pengalamannya sendiri. “Dulu saya berpikir hanya butuh waktu 20 menit untuk bersiap-siap. Padahal kenyataannya, saya butuh waktu 45 menit.”
Saran darinya adalah melakukan uji realitas pada diri sendiri: hitung secara riil berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bersiap-siap, lalu jadwalkan waktu keberangkatan dengan menghitung mundur dari jam janji tersebut.
Dan jika Anda masih bersikeras bilang “lima menit lagi sampai” padahal masih duduk santai di sofa rumah, ketahuilah bahwa orang-orang di sekitar Anda sebenarnya sudah tahu kebenarannya.
Baca Juga: 4 Olahraga Low-Cortisol untuk Tetap Bugar Tanpa Stress Berlebih

Leave a Reply