Krisis Siswa SD Negeri Magelang, Ini Strategi Pemkot

Krisis siswa SD negeri Magelang jadi perhatian serius. Pemkot siapkan strategi regrouping hingga insentif kebijakan untuk menarik minat.

MAGELANG, JOSS.CO.ID – Minat masyarakat terhadap sekolah dasar negeri di Kota Magelang menunjukkan penurunan pada tahun ajaran baru ini. Sejumlah sekolah bahkan dilaporkan kekurangan peserta didik, kondisi yang memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan layanan pendidikan dasar milik pemerintah.

Pemerintah Kota Magelang pun bergerak cepat menyikapi situasi tersebut. Berbagai opsi tengah disiapkan, mulai dari langkah jangka pendek hingga strategi jangka panjang untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri.

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menegaskan bahwa persoalan ini telah menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Ia menyebut pihaknya tidak tinggal diam dan saat ini sedang merumuskan langkah konkret bersama berbagai pihak terkait.

“Sudah kami diskusikan bersama teman-teman pemerhati pendidikan dan Dinas Pendidikan. Kami sedang menyusun strategi untuk mengatasi persoalan ini,” kata Damar usai membuka ajang PUSPITA di Gedung Wanita Kota Magelang, Kamis (16/7/2026).

Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penggabungan sekolah atau regrouping. Namun, Damar menekankan bahwa langkah tersebut bukan prioritas utama dan hanya akan diambil jika upaya lain tidak membuahkan hasil.

Saat ini, pemerintah kota lebih mengedepankan pendekatan peningkatan kualitas. Salah satunya dengan menghadirkan sekolah-sekolah unggulan yang diharapkan mampu meningkatkan daya tarik sekolah negeri di mata masyarakat.

“Tentunya akan ada terobosan-terobosan, seperti bagaimana kalau regrouping, bagaimana kalau menciptakan sekolah-sekolah unggulan, dan bagaimana memberikan insentif agar masyarakat percaya kepada sekolah negeri di Kota Magelang,” tuturnya.

Selain peningkatan mutu, Pemkot Magelang juga mempertimbangkan pemberian insentif sebagai bentuk kebijakan afirmatif. Insentif ini tidak selalu berupa bantuan finansial, melainkan bisa dalam bentuk kebijakan yang memberi keuntungan langsung bagi siswa maupun orang tua.

“Insentif itu sebuah kebijakan. Jangan diartikan insentif pasti uang, insentif kebijakan juga bisa,” jelas Damar.

Menurutnya, skema insentif tersebut masih dalam tahap pembahasan mendalam agar tepat sasaran dan benar-benar mampu meningkatkan minat masyarakat.

Fenomena menurunnya jumlah siswa di sekolah negeri bukan hanya terjadi di Magelang, melainkan juga di sejumlah daerah lain di Indonesia. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari meningkatnya daya tarik sekolah swasta, persepsi kualitas pendidikan, hingga faktor demografi seperti penurunan angka kelahiran.

Dalam konteks ini, langkah menciptakan sekolah unggulan menjadi salah satu strategi yang kerap digunakan pemerintah daerah untuk bersaing dengan sekolah swasta. Sekolah unggulan biasanya menawarkan program khusus, fasilitas lebih baik, serta pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif.

Di sisi lain, jika opsi regrouping akhirnya diterapkan, Pemkot memastikan tidak akan mengabaikan nasib tenaga pendidik. Guru dari sekolah yang digabung akan tetap mendapatkan penempatan sesuai kebutuhan di sekolah lain.

“Kami sedang mendata semuanya. Semua harus berdasarkan data dan tetap sesuai aturan, termasuk penempatan guru. Ini menjadi perhatian serius kami untuk segera diselesaikan,” pungkasnya.

Baca Juga: Penurunan Murid, Lima SD di Gunungkidul Digabung

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*