
Museum Soeharto Bantul mencatat 5 ribu pengunjung per bulan, didominasi pelajar. Destinasi edukasi sejarah.
BANTUL, JOSS.CO.ID – Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto yang berada di Dusun Kemusuk Lor, Kelurahan Argo Mulyo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, terus menjadi magnet wisata edukasi sejarah. Dalam satu bulan terakhir, jumlah kunjungan mencapai sekitar 5 ribu orang.
Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar, mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA. Hal ini menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap pembelajaran sejarah secara langsung.
Kepala Museum Peringatan Jenderal HM Soeharto, Gatot Nugroho, mengungkapkan bahwa konsep edukasi yang dikedepankan menjadi faktor utama tingginya kunjungan tersebut. Dari total pengunjung, sekitar 70 persen merupakan pelajar, sementara 30 persen lainnya berasal dari masyarakat umum.
“Jadi suatu edukasi itu akan lebih mengenal ketika di awal penjelasan tentang museum ketokohan ini dimulai dengan edukasi tentangisme nasional, tentang wawasan kebangsaan dan nasionalisme. Kami selalu melakukan itu agar anak bangsa itu semakin bangga menjadi anak Indonesia dan nantinya akan siap menjadi generasi yang membangun Indonesia,” kata Gatot
Museum ini berdiri di atas lahan seluas 3.620 meter persegi milik keluarga Soeharto. Didirikan pada tahun 2013 oleh Probosutejo, museum ini menjadi bentuk penghormatan kepada sang kakak atas jasa dan perjuangannya bagi bangsa dan negara.
Di bagian depan, pengunjung disambut patung Jenderal Besar HM. Soeharto karya seniman Edhi Sunarso, yang berdiri berdampingan dengan prasasti peresmian museum.
Di dalam area museum terdapat beberapa bangunan dengan fungsi berbeda. Joglo digunakan sebagai tempat istirahat sekaligus area pemutaran video perjalanan hidup Soeharto. Sementara Gedung Atmosudiro menampilkan berbagai selasar sejarah seperti Selasar Ruang berbentuk gulungan film, Selasar Serangan Umum 1 Maret, Selasar Trikora, Selasar Kesaktian Pancasila, hingga Selasar Masa Pembangunan.
Selain itu, terdapat Gedung Notosudiro yang difungsikan sebagai tempat singgah tamu dan keluarga. Di sisi timur gedung ini terdapat sumur bersejarah yang menjadi saksi kelahiran Soeharto, yang kemudian menjadi Presiden kedua Republik Indonesia.
“Menjaga dan merawat museum, itu bisa koleksi seni, koleksi sejarah dan koleksi lain yang bisa dipamerkan dan mejadi edukasi bagi anak bangsa. Saya punya pandangan ketika suatu teknologi modern itu dikembangkan di suatu tempat destinasi atau museum itu bagus, anak muda akan tertarik, tapi harus didampingin oleh pendidik yang betul betul paham,”kata Gatot.
Dalam praktiknya, edukasi di museum dilakukan secara interaktif dan disesuaikan dengan usia pengunjung. Pendekatan tidak hanya satu arah, tetapi melibatkan partisipasi aktif, terutama bagi anak-anak.
Metode edukasi yang digunakan pun dibuat menarik, seperti mengajak anak-anak menyanyikan lagu Garuda Pancasila dan aktivitas lain yang sesuai dengan dunia mereka.
Dengan pendekatan ini, museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga sarana pembentukan karakter, wawasan kebangsaan, dan nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.

Leave a Reply