
Wapres Gibran soroti trade misinvoicing, kebocoran devisa Indonesia ratusan miliar US$ dari ekspor impor. Dampak: hilang pajak, larinya modal, dan dana gelap. Pemerintah tekan kebocoran via sistem elektronik.
JOSS.CO.ID, JAKARTA – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mengungkap praktik licik trade misinvoicing yang merugikan Indonesia. Praktik ini memalsukan data faktur perdagangan agar uang bisa berpindah lintas negara tanpa terdeteksi.
Menurut Global Financial Integrity, trade misinvoicing melibatkan pemalsuan nilai, jumlah, atau jenis barang di faktur. Biasanya, ini dipakai untuk hindari pajak, bea cukai, cuci uang, atau sembunyikan hasil kejahatan ekonomi. Gibran bilang, hal ini bikin modal dan kekayaan negara bocor ke luar negeri.
“Ya itu adalah praktik trade misinvoicing, sebuah praktik yang selama ini tersembunyi di balik angka-angka ekspor impor,” kata Gibran dalam YouTube Wakil Presi-den Republik Indonesia, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Gibran jelaskan, transaksi yang tak dilaporkan ke luar negeri ciptakan selisih data. Ini buka celah buat dana gelap berputar. “Inilah kecurangan yang seolah teknis tapi mengakibatkan dampak yang sangat nyata, kecurangan trade misinvoicing atau manipulasi faktur kepabeanan ini beragam mulai dari under invoicing hingga over invoicing,” imbuh dia.
Data periode 2014-2023 tunjukkan kerugian besar. “Periode 2014 sampai 2023 nilai under invoicing ekspor diperkirakan mencapai 401 miliar US dollar atau rata-rata 40 miliar US dollar per tahun,” papar Gibran. “Sedangkan nilai over-invoicing ekspor tercatat 252 miliar US dollar atau 25 miliar US dollar per tahun, dengan sektor terbesar ada pada perdagangan limbah logam berlapis logam mulia serta smartphone,” sambungnya lagi.
Empat Dampak Kerugian Negara
Gibran sebut trade misinvoicing sebagai pelanggaran hukum yang bikin negara rugi besar. Berikut empat dampak utamanya:
– Hilangnya pajak dan bea cukai.
“Setiap rupiah nilai ekspor atau impor yang dikecilkan secara curang mengakibatkan ada penerimaan negara yang tidak tertagih,” lanjutnya.
– Modal lari ke luar, devisa berkurang.
Selisih pembayaran bikin devisa ekspor masuk lebih sedikit dari seharusnya.
– Dana gelap masuk Indonesia.
“Tapi sebagian skenario justru memasukkan uang ilegal ke Indonesia yang umum dipakai untuk pencucian uang,” tambahnya.
– Persaingan usaha tak adil.
Pelaku jujur kalah saing karena oknum curang jual lebih murah. “Yang pada akhirnya mendorong semua pihak untuk ikut-ikutan curang demi bertahan,” tuturnya.
Gibran tegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto selamatkan kekayaan negara. “Bagi beliau menjaga kekayaan nasional agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat hari ini, dan generasi mendatang adalah tanggung jawab moral dan konstitusional,” ucap Gibran.
Pemerintah kini perbaiki pelaporan pajak dan bea cukai via sistem elektronik. Tujuannya, transaksi lebih transparan dan kebocoran ditekan. “Inilah saatnya ekonomi kita tumbuh bermartabat tumbuh dari kejujuran dan keadilan,” tutupnya.
Baca Juga:

Leave a Reply