
Donald Trump kenakan tarif 100% obat paten impor kecuali perusahaan yang pindah produksi ke AS, strategi kuatkan farmasi domestik dan turunkan harga obat.
JOSS.CO.ID – Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi mengeluarkan kebijakan tarif impor obat paling agresif sepanjang sejarah. Tarif hingga 100% diberlakukan pada obat paten bermerek dan bahan aktifnya yang diproduksi di luar Amerika Serikat, menargetkan perusahaan farmasi yang belum menandatangani kesepakatan penurunan harga obat domestik.
Seorang pejabat senior pemerintah AS menyatakan langkah ekstrem ini bertujuan menjamin kemandirian pasokan obat nasional. “Kami perlu memastikan pasokan obat kami terlindungi, aman, dan diproduksi di dalam negeri,” ujarnya dilansir dari CNBC, Minggu (5/4).
Pemerintah memberikan jalan tengah bagi perusahaan farmasi asing: pindahkan pabrik ke AS. Perusahaan yang berkomitmen relokasi akan dikenakan tarif bertahap mulai 20% saat ini, naik hingga 100% dalam empat tahun. Namun perusahaan yang sudah deal soal harga obat atau sedang membangun pabrik di Amerika dibebaskan sepenuhnya, asalkan fasilitas produksi selesai paling lambat Januari 2029.
Mitra dagang utama mendapat keringanan: Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Swiss dikenakan tarif 15%, sementara Inggris hanya 10%. Kebijakan ini jelas membedakan antara sekutu strategis dan kompetitor perdagangan.
Sejak akhir 2025, raksasa farmasi seperti Pfizer, Eli Lilly, dan Novo Nordisk sudah tunduk pada kebijakan “most favored nation” Trump—harga obat di AS harus sama dengan harga terendah di negara maju lain. Sebagai imbalannya, mereka bebas tarif selama tiga tahun dan kini mencatat komitmen investasi US$400 miliar untuk membangun pabrik baru di Amerika.
Kebijakan proteksi ini meluas ke sektor logam strategis. Tarif 50% untuk baja, aluminium, dan tembaga kini dihitung dari total nilai produk impor, bukan sekadar kandungan logamnya. Produk jadi dengan logam di atas 15% kena tarif 25% dari nilai keseluruhan—menutup celah manipulasi harga eksportir asing.
Komite Anggaran Federal AS memprediksi kebijakan tarif ganda ini berpotensi menambah penerimaan negara hingga US$70 miliar dalam satu dekade. Meski Trump mengklaim dampak pada konsumen minimal, analis memperingatkan biaya impor tetap akan terdongkrak signifikan, terutama untuk obat generik dari Asia dan Eropa Timur.
Strategi “America First” versi Trump kini bertransformasi dari perang dagang konvensional menjadi proteksi sektoral krusial. Industri farmasi yang selama ini dikritik mahal kini jadi sasaran utama, dengan pesan tegas: produksi di AS atau bayar dua kali lipat.

Leave a Reply