Harga Plastik Indonesia Melonjak Imbas Selat Hormuz Ditutup

Harga plastik Indonesia melonjak tajam imbas penutupan Selat Hormuz dan krisis pasokan nafta dari Timur Tengah, pedagang kecil hingga UMKM ikut tertekan.
Ilustrasi

Harga plastik Indonesia melonjak tajam imbas penutupan Selat Hormuz dan krisis pasokan nafta dari Timur Tengah, pedagang kecil hingga UMKM ikut tertekan.

JOSS.CO.ID, JAKARTA – Kenaikan harga plastik secara drastis belakangan ini mulai terasa di berbagai lini perdagangan masyarakat Indonesia. Plastik yang selama ini menjadi bahan penting untuk kemasan dan operasional usaha, kini berubah menjadi komponen biaya yang memberatkan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pelaku usaha kecil hingga konsumen, apa sebenarnya penyebab lonjakan harga tersebut.

Sejumlah produk berbahan plastik dilaporkan mengalami kenaikan harga, mulai dari kantong kresek, plastik kiloan, hingga berbagai jenis wadah makanan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen dan pedagang bahan plastik, tetapi juga merembet ke barang konsumsi sehari-hari yang menggunakan kemasan plastik. Sektor jasa yang mengandalkan plastik, seperti penatu dan layanan pesan antar makanan, ikut terpukul karena biaya operasional meningkat.

Penyebab Harga Plastik Indonesia Melonjak

Kenaikan harga plastik dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Jalur sempit ini menjadi salah satu rute terpenting dunia untuk pengiriman minyak dan produk petrokimia yang menjadi bahan baku plastik.

Dirujuk dari To Vima, gangguan di Selat Hormuz menyebabkan pasokan minyak dan komoditas penting lainnya terhambat sehingga memicu efek domino pada industri petrokimia. Harga minyak mentah tercatat melonjak hingga sekitar 47 persen, sementara polipropilena sebagai salah satu bahan utama plastik naik sekitar 24 persen. Polipropilena banyak digunakan untuk kemasan makanan, wadah, dan perlengkapan rumah tangga sehingga kenaikan harga langsung terasa di rantai produksi.

Plastik lain seperti polietilen atau PE, yang umum dipakai untuk kantong kresek, botol, dan aneka kemasan, juga terdampak karena sama‑sama berasal dari olahan minyak bumi. Kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar seperempat ekspor polietilen dan polipropilena dunia sehingga ketika rantai pasokan dari wilayah ini terganggu, distribusi bahan baku plastik ke banyak negara menjadi tidak lancar. Pasokan yang menyusut di tengah kebutuhan yang tetap tinggi membuat harga plastik terdorong naik di pasar global, termasuk di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Direktur Polietilen Harrison Jacoby yang menyoroti besarnya ketergantungan pasokan pada jalur laut di kawasan tersebut.

“Sekitar 84 persen kapasitas polietilen Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut,” ungkap Harrison Jacoby, Direktur Polietilen di Independent Commodity Intelligence Services.

Ketergantungan besar pada satu jalur ini membuat setiap gangguan di Selat Hormuz langsung berdampak luas pada pasokan global. Walaupun Indonesia berada ribuan kilometer dari Timur Tengah, efek rantai pasokan tersebut tetap terasa hingga ke pasar domestik.

Dampak ke Harga Barang Sehari-hari

Lonjakan harga plastik berdampak luas karena material ini digunakan di hampir semua lini, mulai dari produksi hingga pengemasan. Berbagai produk berbahan plastik seperti kantong kresek, plastik kiloan, hingga wadah makanan mengalami kenaikan harga secara merata. Produsen dan pedagang harus menyesuaikan harga jual untuk menutupi biaya produksi yang meningkat.

“Akibatnya, produk-produk seperti peralatan makan sekali pakai, minuman dalam botol, dan kantong sampah bisa menjadi yang pertama mengalami kenaikan harga dalam beberapa minggu mendatang,” terang Patrick Penfield, seorang profesor dari Universitas Syracuse.

Di tingkat akar rumput, dampak kenaikan ini sudah dirasakan langsung oleh pedagang di daerah, salah satunya di Bekasi. Dilansir detikNews, seorang pedagang plastik bernama Zainuddin mengaku kesulitan mengikuti perubahan harga yang berubah sangat cepat.

“Kita keder (bingung), tiap mau belanja dikasih price list baru. Malam nanya harga sekian, besok pagi sudah berubah lagi,” keluhnya di Pasar SBS, Bekasi Utara, Jumat 25 Maret 2026.

Ia menambahkan, lonjakan harga itu berpengaruh pada modal usaha yang harus disiapkan.

“Dulu bawa sejuta sudah dapat macam-macam barang. Sekarang sejuta baru dapat satu jenis plastik saja, akhirnya kita yang mundur (kurangi stok),” tambahnya.

Tidak hanya pedagang plastik, pelaku usaha makanan dan minuman dalam kemasan juga ikut terpukul. Plastik menjadi komponen penting dalam proses pengemasan, sehingga setiap kenaikan harga plastik akan mendorong naiknya biaya produksi. Pada akhirnya, beban biaya tersebut cenderung dialihkan ke konsumen melalui kenaikan harga jual produk.

Strategi Pelaku Usaha dan Prospek ke Depan

Menghadapi kondisi ini, sejumlah produsen dan pelaku usaha mulai menyesuaikan strategi agar usaha tetap berjalan. Ada yang memilih menggunakan plastik lebih tipis, mengganti ke kemasan alternatif yang lebih murah, atau mengurangi ukuran kemasan untuk menahan harga tetap terjangkau. Namun langkah tersebut punya batas karena menyangkut kualitas dan keamanan produk.

Di sisi lain, pelaku usaha kecil seperti pedagang pasar dan pelaku UMKM masih berupaya menahan kenaikan harga demi menjaga pelanggan. Mereka mengorbankan margin keuntungan atau mengurangi stok plastik yang dibeli setiap kali belanja. Jika gangguan pasokan dari Timur Tengah terus berlanjut dan harga minyak tetap tinggi, kenaikan harga produk berbahan plastik diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

Dalam situasi ini, penggunaan plastik yang lebih efisien, eksplorasi bahan kemasan alternatif, serta kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan menjadi faktor penting agar dampak kenaikan harga plastik Indonesia yang melonjak tidak semakin meluas.

Baca Juga:

Batas Beli Pertalite dan Solar 50 Liter per Hari Mulai 1 April 2026

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*