
Perang AS–Iran di Selat Hormuz bikin Asia paling terpukul krisis minyak. Myanmar, Vietnam, hingga Indonesia terancam lonjakan harga energi dan kekurangan pasokan.
JOSS.CO.ID – Perang Amerika Serikat dan Iran membuat Selat Hormuz, jalur pengiriman hampir seperlima minyak dunia, berubah menjadi titik paling genting bagi energi global. Banyak negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk kini menghadapi ancaman langsung krisis pasokan dan lonjakan harga.
Myanmar dan Vietnam termasuk yang paling rawan karena lebih dari 80 persen kebutuhan minyaknya datang dari kapal yang melintas di Selat Hormuz. Cadangan mereka diperkirakan hanya cukup untuk sekitar satu bulan jika pasokan dari jalur itu benar-benar berhenti.
Dampaknya mulai terasa di berbagai negara Asia, dari antrean panjang di SPBU, tagihan impor energi yang membengkak, hingga tekanan ke anggaran negara. Analis menilai Asia menjadi kawasan paling terpukul karena ketergantungan tinggi pada minyak impor, sementara pasokan alternatif masih terbatas.
Menurut analisis yang dirangkum media ekonomi, Thailand, Nepal, Pakistan, Mesir, hingga Sri Lanka masuk daftar negara berkembang yang paling rentan krisis minyak akibat perang ini. Pakistan dan Mesir mengeluarkan sekitar 3 sampai 4 persen Produk Domestik Bruto hanya untuk impor minyak dan gas, dengan mayoritas pasokan berasal dari Timur Tengah.
Indonesia berada di peringkat ke tiga belas negara emerging market yang paling terekspos krisis minyak. Net impor energi yang tinggi membuat Indonesia tetap waspada terhadap risiko kenaikan tajam harga minyak dunia, inflasi, dan tekanan pada anggaran subsidi, meski cadangan devisa dan bantalan keuangan relatif lebih kuat dibanding banyak negara berkembang lain.
Harga minyak global sudah melonjak tajam sejak perang meletus, dengan beberapa acuan minyak dunia sempat menembus di atas 95 dolar Amerika Serikat per barel. Jika Selat Hormuz tertutup lebih lama, jutaan barel minyak yang gagal masuk pasar akan membuat tekanan terhadap negara-negara Asia semakin berat.

Leave a Reply