
JOSS.CO.ID, BANTUL – Tiket pantai Bantul kembali dipersoalkan pengelola wisata menyusul dorongan evaluasi terhadap kebijakan tiket terusan Rp15.000 untuk seluruh destinasi pantai selatan. Mereka menilai skema saat ini perlu diperbarui agar retribusi lebih adil, transparan, dan berdampak langsung pada pengelolaan wisata pantai Bantul yang menjadi favorit wisatawan Yogyakarta dan sekitarnya.
Ketua Desa Wisata Pantai Goa Cemara, Bayu Sujaka, mengusulkan agar wisatawan diberi opsi tiket nonterusan sebesar Rp5.000 untuk setiap destinasi pantai yang dikunjungi. Usulan tersebut disampaikan dalam audiensi bersama Bupati Bantul pada Selasa (3/3/2026). “Selama ini kan per orang bayar Rp15.000 itu sudah bisa ke semua destinasi pantai di Bantul. Kami minta dievaluasi dan diberlakukan tiket per destinasi sebesar Rp5.000 setiap pantai,” katanya seusai audiensi dengan Bupati Bantul, Selasa (3/3/2026).
Menurut Bayu, skema tiket per destinasi akan memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi masing-masing pengelola dalam mengatur operasional dan perawatan kawasan wisata pantai Bantul yang terus berkembang. Ia juga menilai perubahan tiket pantai selatan Yogyakarta ini dapat mendorong persaingan positif antar destinasi untuk meningkatkan layanan dan atraksi wisata. Selain itu, ia mengusulkan agar sebagian pendapatan retribusi dapat dikembalikan langsung kepada pengelola destinasi untuk memperkuat program kerja di lapangan.
“Ini agar para pengurus bisa mengatur program kerja dan perawatan tanpa menunggu administrasi anggaran yang kadang terlalu panjang,” ujarnya. Dengan dukungan pendapatan yang lebih jelas, pengelola wisata pantai di Bantul diharapkan mampu meningkatkan kebersihan, keamanan, serta kenyamanan fasilitas bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Bayu juga menyoroti efektivitas pos retribusi yang saat ini hanya berada di jalur utama menuju kawasan pantai selatan Bantul. Menurutnya, perlu ada pos tambahan di akses jalan alternatif atau pintu masuk kecil guna mencegah potensi kebocoran retribusi. “Petugas retribusi juga harus fokus pada tugas pemungutan saja dan tidak mencampuri urusan pengelolaan internal destinasi atau melakukan transaksi di luar tugas resmi,” ungkapnya. Penataan sistem retribusi seperti ini dinilai penting agar pengelolaan wisata pantai Bantul lebih profesional dan dipercaya wisatawan.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyatakan masukan dari pengelola destinasi wisata pantai selatan akan menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah demi mendorong kemajuan industri pariwisata di wilayah tersebut. “Bagi saya tidak ada masalah, mau Rp15.000, Rp10.000, Rp5.000 atau nol sekalipun, tapi tujuannya itu harus jelas. Wisatawan bertambah, begitu juga spending money mereka,” kata Halim. Ia menegaskan, pengelolaan destinasi pariwisata, termasuk wisata pantai Bantul, membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit, mulai dari kebersihan, keamanan, hingga kenyamanan pengunjung.
Halim menambahkan, aspek layanan yang baik akan membuat wisatawan betah berlama-lama, mengeluarkan belanja lebih besar, dan pada akhirnya memperkuat perputaran ekonomi wisata di Bantul. “Ya, nanti akan kami uji coba aspirasi mereka, bahwa ternyata itu objek yang mandiri. Trial and error itu sesuatu yang biasa saja dalam penyelenggaraan pemerintah. Dicoba, kalau salah, diperbaiki lagi,” pungkas Halim, seraya membuka peluang uji coba kebijakan baru untuk melihat seberapa efektif skema tiket pantai Bantul terhadap peningkatan kunjungan dan pendapatan sektor pariwisata.
Dengan pengembangan skema tiket pantai selatan Yogyakarta yang lebih ramah wisatawan dan berpihak pada pengelola lokal, kawasan pantai Bantul diharapkan tetap menjadi salah satu destinasi andalan liburan di DIY, sekaligus memberi ruang lebih luas bagi pelaku usaha wisata dan UMKM di sekitarnya.

Leave a Reply