Pengunduran Diri Petinggi OJK Berpotensi Tekan IHSG

Pengunduran Diri Petinggi OJK Berpotensi Tekan IHSG
Ilustrasi

Pengunduran diri Ketua OJK dan pejabat pasar modal dinilai berpotensi tekan IHSG dalam jangka pendek seiring sikap wait and see investor.

JOSS.CO.ID, JAKARTA – Pengunduran diri Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan C Inarno Djajadi dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan pasar saham pada awal perdagangan pekan depan.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, pada fase awal perdagangan, pasar berpeluang mengalami tekanan jual seiring respons investor terhadap mundurnya sejumlah pejabat strategis di sektor jasa keuangan.

Tekanan Jual Berpotensi Muncul di Awal Perdagangan

“Di awal, market mungkin ada sedikit tekanan jual karena terlihat berturut-turut petinggi regulator dan penyelenggara pasar mundur. Pelaku pasar mempertanyakan strategi di balik perubahan tersebut,” ujar Reydi, dikutip Sabtu (31/1/2026).

Namun demikian, Reydi menegaskan bahwa tekanan tersebut bersifat sementara dan tidak mencerminkan kondisi fundamental pasar secara keseluruhan.

Investor Cenderung Wait and See

Menurut Reydi, pelaku pasar saat ini lebih memilih bersikap menunggu kepastian mengenai siapa yang akan mengisi posisi-posisi strategis yang ditinggalkan.

“Pelaku pasar akan wait and see menunggu kepastian siapa penerusnya. Kalau ternyata lebih kredibel, itu bisa lebih baik,”

Ia menambahkan, kejelasan terkait sosok pengganti akan menjadi faktor penting dalam membangun kembali kepercayaan investor terhadap stabilitas regulator dan penyelenggara pasar modal.

Dinamika Pasar dan Dampak Kebijakan MSCI

Reydi juga menyinggung kondisi pasar sebelumnya, termasuk terjadinya penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut dipicu oleh keputusan MSCI yang membekukan rebalancing saham-saham Indonesia.

Terkait pergerakan indeks, Reydi menilai tekanan kali ini tidak sedalam gejolak yang terjadi pada periode sebelumnya akibat faktor global.

“Dari sisi penurunan, tidak terlalu dahsyat. Ini berbeda dengan tekanan sebelumnya yang sempat turun tajam, lalu rebound. Kali ini murni karena MSCI, karena investor belum sepenuhnya mencerna maksud kebijakan tersebut,” beber Reydi.

Ia menjelaskan, kebijakan MSCI tersebut pada dasarnya bertujuan untuk menahan potensi arus keluar dana asing agar tidak terjadi secara masif.

“Kalau kebijakan itu langsung diberlakukan, banyak saham bisa keluar dari indeks MSCI. Tujuannya untuk menunda capital outflow,” ujarnya.

Rentetan Pengunduran Diri Petinggi BEI dan OJK

Sebelumnya, sejumlah petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara mengejutkan mengundurkan diri dalam rentang waktu yang sangat singkat.

Pada Jumat pagi (30/1/2026), Direktur Utama BEI Iman Rachman mengumumkan pengunduran dirinya. Di hari yang sama pada sore hari, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar turut menyampaikan pengunduran diri, disusul oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi.

Padahal, Inarno masih menggelar konferensi pers di Gedung BEI pada siang hari, yang saat ini juga difungsikan sebagai kantor sementara OJK.

Tak lama kemudian, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mirza Adityaswara juga menyatakan mundur dari jabatannya.

Pengunduran diri para petinggi BEI hingga OJK tersebut disebut sebagai buntut dari guncangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu oleh keputusan MSCI terkait ketentuan free float. Dalam beberapa waktu terakhir, IHSG tertekan dan bahkan mengalami trading halt selama dua hari berturut-turut.

Baca Juga:

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*