Rupiah Melemah ke Rp16.935 per Dolar AS, Pasar Soroti Defisit APBN 2026

Rupiah Melemah ke Rp16.935 per Dolar AS, Pasar Soroti Defisit APBN 2026
Ilustrasi, uang ribuan rupiah

JOSS.CO.ID – NILAI tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan siang hari. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia, khususnya terkait defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, meskipun Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi.

“Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) siang ini susut 0,30% ke level Rp16.935/US$ di pasar spot. Bahkan, di pasar offshore nilai tukar rupiah jatuh lebih dalam sebesar 0,34% ke level Rp16.981/US$.”

Pelemahan rupiah tersebut sejalan dengan proyeksi sejumlah analis yang menilai mata uang Garuda berpotensi mencapai titik terendahnya dalam waktu dekat. Tekanan terhadap rupiah terjadi meskipun Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi.

Kekhawatiran utama pasar berasal dari potensi melemahnya disiplin fiskal pemerintah di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko pembiayaan negara, terutama ketika defisit fiskal melebar.

Dalam situasi defisit yang meningkat, pemerintah membutuhkan pembiayaan tambahan melalui penerbitan surat utang. Namun, pada saat yang sama, minat investor asing cenderung menurun akibat tingginya ketidakpastian global, sehingga menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.

Tekanan tersebut juga tercermin di pasar surat utang domestik. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah mengalami kenaikan pada perdagangan siang ini. Yield tenor 10 tahun naik sebesar 5,5 basis poin (bps) menjadi 6,3%, sementara yield tenor 5 tahun meningkat 6,9 bps ke level 5,7%.

Intervensi Bank Indonesia memang mampu menahan laju pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Namun demikian, pelaku pasar menilai kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan kebijakan fiskal yang kuat dan kredibel.

Selama kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal belum dijawab dengan sinyal konsolidasi yang jelas, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus berulang. Rupiah tidak hanya mencerminkan dinamika eksternal global, tetapi juga menjadi indikator kepercayaan pasar terhadap tata kelola ekonomi domestik.

Baca Juga:

Rupiah Melemah, Berpotensi Dekati Rp 17.000

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*