
JOSS.CO.ID, JAKARTA – Eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyinggung amanat Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) saat menjelaskan awal mula kebijakan pengadaan laptop Chromebook di lingkungan Kemendikbudristek.
Nadiem mengungkapkan, kebijakan tersebut berawal dari kondisi darurat ketika Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Saat itu, sektor pendidikan mengalami dampak signifikan hingga nyaris lumpuh akibat pembatasan aktivitas tatap muka.
Menurut Nadiem, situasi tersebut menuntut adanya percepatan penerapan pembelajaran berbasis teknologi untuk menjaga keberlangsungan proses pendidikan nasional. Hal itu disampaikannya saat membacakan surat eksepsi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor), Jakarta, Senin (5/1/2025).
“Inilah dasar dari program digitalisasi pendidikan, visi besar Pak Presiden Joko Widodo yang menjadi amanah saya sebagai Menteri,” ujar Nadiem.
Lebih lanjut, Nadiem menyampaikan bahwa Presiden Jokowi secara langsung memberikan tugas kepadanya untuk melaksanakan digitalisasi di dunia pendidikan. Amanat tersebut kemudian diwujudkan melalui upaya pembangunan berbagai platform teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan peserta didik.
Ia menilai, penyediaan sarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di sekolah merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan. Menurutnya, perangkat seperti laptop, proyektor, dan jaringan internet diperlukan agar berbagai aplikasi pendidikan dapat digunakan secara optimal.
“Sarana TIK seperti Laptop, Proyektor, dan Wifi router untuk sekolah menjadi keniscayaan untuk bisa memanfaatkan semua aplikasi yang dikembangkan, termasuk Asesmen Nasional Berbasis Komputer [ANBK],” imbuhnya.
Selain itu, Nadiem juga memaparkan capaian kebijakan akselerasi teknologi selama lima tahun menjabat sebagai Mendikbudristek. Salah satu hasilnya adalah pengangkatan satu juta guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).
Tak hanya itu, sekitar dua juta guru disebut telah mengunduh Platform Merdeka Mengajar untuk mengikuti pelatihan kurikulum secara gratis. Program lain yang turut disorot adalah perekrutan dan pelatihan Guru Penggerak serta perluasan kesempatan magang bagi mahasiswa.
“100 ribu Guru Penggerak terekrut dan dilatih secara online untuk menjadi obor perubahan. Ratusan ribu mahasiswa bisa menemukan semester magang di industri dan di luar negeri melalui Platform Kampus Merdeka,” pungkasnya.

Leave a Reply