Mahasiswa Indonesia di New York Gelar Aksi Kamisan, Dapat Ancaman Pencabutan Beasiswa?

Mendiktisaintek Jawab Isu Pencabutan Beasiswa LPDP Mahasiswa New York yang Aktif Aksi Kamisan
Mendiktisaintek Jawab Isu Pencabutan Beasiswa LPDP Mahasiswa New York yang Aktif Aksi Kamisan

JOSS.CO.iD, NEW YORK – Aksi Kamisan yang digelar mahasiswa Indonesia di New York berujung intimidasi. Sejumlah pengurus kegiatan mengaku mendapat ancaman dari aparat hingga sesama mahasiswa, termasuk ancaman pencabutan beasiswa LPDP dan laporan ke pihak imigrasi Amerika Serikat.

Ali, salah satu mahasiswa penggagas Aksi Kamisan, mengatakan dirinya dihubungi seorang mahasiswa New York University (NYU) yang juga polisi Indonesia pada 21 Juni 2025. Ia kemudian diajak bertemu di sebuah kafe di kawasan Times Square.

“Dia bilang beasiswa kami bisa dicabut kalau tetap ngotot,” kata Ali saat dihubungi, Kamis (25/9/2025).

Dalam pertemuan itu, polisi tersebut menyampaikan pesan dari seorang jenderal TNI yang keberatan dengan Aksi Kamisan. Jenderal itu meminta agar aksi dihentikan atau minimal tidak dipublikasikan di media sosial. Jika tetap dipublikasikan, kata Ali, jenderal tersebut akan melaporkan ke LPDP agar beasiswa dicabut.

Seorang mahasiswa Columbia University yang ikut dalam pertemuan menguatkan cerita Ali. Ia menambahkan bahwa intimidasi semakin kuat setelah aksi mereka membahas pemerkosaan massal Mei 1998 dan rencana penulisan ulang sejarah.

“Puncaknya Juni, baru ada ancaman beasiswa dicabut,” ujarnya.

Selain ancaman, para penggagas juga merasa diawasi. Polisi Indonesia yang kuliah di New York disebut sempat hadir pada Aksi Kamisan perdana Februari lalu dan merekam jalannya kegiatan.

Ali juga menyebut seorang mahasiswa NYU bernama Fauzan, ko-presiden Mata Garuda Amerika Serikat, diduga ditugaskan memata-matai kegiatan tersebut. “Itu yang membuat kami merasa dikhianati, karena dia teman nongkrong juga,” kata Ali.

Ancaman ini membuat Aksi Kamisan New York terhenti sementara. Para pengurus memutuskan untuk menghentikan kegiatan demi mengurangi risiko. “Ini pertama kali ancaman terjadi di luar negeri, jadi kami diminta Aksi Kamisan pusat untuk pause dulu,” jelas Ali.

Rekan Ali menyebut pihaknya sudah melaporkan peristiwa ini ke LPDP, namun belum mendapat perlindungan. Ia menilai ancaman tersebut berbahaya bagi kebebasan akademik. “Jangan sampai anak-anak LPDP takut bersuara karena gampang diancam,” katanya.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengaku belum mengetahui soal dugaan intimidasi tersebut. “Saya belum dapat informasi. Nanti saya cek dulu seperti apa,” kata Brian di Surabaya, Kamis (25/9/2025).

Aksi Kamisan pertama kali digelar di Jakarta pada 2007 sebagai bentuk protes keluarga korban pelanggaran HAM yang belum terselesaikan. Di New York, aksi serupa mulai diadakan pada Februari 2025 oleh mahasiswa Indonesia di berbagai kampus, termasuk NYU dan Columbia University.

Baca Juga: Sikap Realistis Prabowo di PBB Soal Palestina-Israel, Babak Baru Diplomasi Indonesia?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*