Pemerintah Evaluasi Total SOP Pendakian, Menhut Tegaskan Gunung Bukan Tempat Tren FOMO

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. (Foto: istimewa)

JOSS.CO.ID, Jakarta – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pemerintah akan memperketat pengawasan serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan pendakian gunung di Indonesia.

Langkah ini diambil usai insiden tragis yang menimpa pendaki asal Brasil, Juliana Marins (27), yang ditemukan meninggal dunia di jurang Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (21/6).

“Naik gunung bukan sekadar ikut-ikutan atau tren media sosial. Ini bukan seperti ke mal. Pendakian butuh persiapan fisik, mental, dan perlengkapan yang matang. Keselamatan pendaki gunung adalah hal utama yang tidak boleh diabaikan,” tegas Menhut saat ditemui di Jakarta, Senin.

Dalam menanggapi kasus tersebut, pemerintah akan meningkatkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian, melengkapi sarana pendukung seperti posko darurat, dan menerapkan teknologi pendakian seperti gelang RFID agar posisi pendaki dapat terdeteksi secara real time jika terjadi situasi darurat.

“Kami tidak anti-kritik. Justru insiden ini menjadi refleksi bagi kami untuk berbenah. Termasuk mempercepat respons tanggap darurat dan meningkatkan sistem pelaporan,” ujar Raja Juli.

Selain itu, Kementerian juga tengah menyiapkan program sertifikasi pemandu gunung untuk menjamin pendampingan profesional bagi para pendaki. Pemerintah juga akan memetakan tingkat risiko masing-masing gunung agar calon pendaki pemula tidak langsung menuju jalur ekstrem tanpa pengalaman.

Menhut mengakui bahwa Basarnas sebagai tim pencarian dan penyelamatan sudah memiliki reputasi internasional, bahkan masuk peringkat empat besar Asia Pasifik. Namun demikian, ia menilai bahwa kolaborasi dengan relawan berpengalaman seperti Agam Rinjani dan Tyo Survival perlu diperkuat demi kecepatan dan efektivitas evakuasi di medan sulit.

“Kami sedang menyusun nota kesepahaman dengan berbagai pihak untuk meningkatkan sinergi dalam penanganan darurat di gunung. Ini penting, karena Indonesia berada di wilayah ring of fire dan rawan bencana,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran pendaki untuk tidak meremehkan kegiatan alam terbuka. Pendaki harus memiliki kondisi fisik prima, kesiapan mental, serta perlengkapan memadai sebelum naik gunung.

“Jangan bayangkan naik gunung itu seperti pergi liburan. Dibutuhkan disiplin, latihan, dan pengetahuan. Ini menyangkut nyawa,” tutup Menhut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*