JoSS, JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) berencana memangkas puluhan rute penerangan dari 237 rute menjadi hanya 140 rute. Selain itu maskapai nasional ini juga mengandangkan lebih dari separu jumlah pesawat, dari 142 pesawat menjadi hanya 50-60 an yang masih dioperasionalkan.
Terkait hal itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyampaikan permohonan maafnya kepada sejumlah anggota dewan dan pemerintah daerah apabila harus menutup rute-rute yang kurang menguntungkan.
Dia menambahkan selama ini perseroan terdesak untuk membuka rute yang tidak menguntungkan. Hal itu dikarenakan maskapai pelat merah tersebut juga mengalami banyak tekanan pembukaan rute.
“Jadi bapak-bapak mohon dukungan seperti yang disampaikan kalau nggak untung kami tutup. Tarakan kami akan tutup banyak maaf, mohon maaf. Ini kami tegas termasuk ke Pemda dan Gubernur,” jelasnya dalam rapat dengar pendapat bersama komisi VI DPR/RI, Selasa (9/11/2021).
Menurutnya, penutupan 97 rute penerbangan ini karena perusahaan menanggung kerugian akibat beroperasinya sejumlah maskapai di rute-rute yang tidak mendorong pendapatan. “Pendapatan yang diperoleh maskapai dari rute-rute tertentu ini tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan,” jelasnya.
Selain itu, maskapai dengan jenis layanan penuh tersebut menilai ada dua jenis pesawat yakni Bombardier CRJ dan ATR yang membuat rugi. Ada juga rute-rute dengan jumlah penumpang minim masih dapat dibuka karena memiliki volume kargo yang mencukupi.
Baca juga: Ini Profil Pelita Air Yang Bakal Gantikan Garuda Indonesia
Tak hanya dalam negeri, perusahaan telah mengurangi secara masif penerbangan untuk rute internasional. Pada awal 2020, perusahaan memangkas rute penerbangan ke Amsterdam, London, dan Nagoya. Sejalan dengan pengurangan rute, perusahaan pun meminimalkan frekuensi ke rute-rute tertentu. Salah satunya Jakarta-Yogyakarta.
“Sekarang ke Jogja hanya bisa pagi. Jadi kalau mau ke Jogja pulang hari, silakan dari Solo,” tutur Irfan. Efisiensi rute dan pemangkasan frekuensi merupakan salah satu rencana bisnis Garuda yang tercantum dalam proposal restrukturisasi. Maskapai yang tengah menanggung kerugian mencapai US$9,8 miliar atau nyaris Rp140 triliun itu sedang bernegosiasi dengan 32 lessor untuk menurunkan beban operasionalnya.
Sementara itu terkait jumlah pesawat, Irfan menuturkan pihaknya mengurangi jumlah pesawat yang beroperasi dari sebesar 142 pesawat menjadi hanya 50-60 pesawat.
Dilansir dari bisnis.com, Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wirjoatmodjo membenarkan bahwa jadwal penerbangan Garuda saat ini makin langka karena jumlah pesawat yang telah menyusut dengan mayoritas dikandangkan atau grounded.
“Kami dapat komplain sebulan belakangan flight Garuda makin langka. Memang karena banyak pesawatnya sudah di grounded. Dari 142 pesawat menjadi 50-60 pesawat. Ini memang jadi isu karena kita akan selektif melayani rute tertentu yang secara profitabilitas di atas cost structure yang ada dari Garuda,” ujarnya dalam rapat bersama komisi VI, Selasa (9/11/2021).
Tiko, sapaan akrabnya, menjelaskan tipe pesawat Boeing 737 yang lebih efisien dari sisi operasi menjadi yang paling banyak diambil oleh perusahaan lessor. Karena itu, maskapai pelat merah tersebut hanya menggunakan tipe widebody Boeing 777 sama yang 330 yang bisa mengangkut lebih banyak penumpang kendati tidak seefisien Boeing 777.
Sementara itu, kondisi berbeda dialami anak usaha Garuda, yakni Citilink yang masih relatif stabil dari sisi kepemilikan pesawat dengan mayoritas bertipe A320. Tipe pesawat dan kepemilikan pesawat oleh Citilink ini akan tetap dipertahankan. (lna)

Leave a Reply